Ma’rifatun Nas (Mengenal manusia)
I. Mukoddimah (Kronologi)
Dalam surat Al-Maidah (5) ayat 40 dan 67 Alloh menyatakan tentang kekuasaan Alloh di langit dan di bumi dan menyiksa dan mengampuni siapa saja yang dikehendaki oleh Alloh. Karena Alloh maha berkehendak atas segala sesuatu :
“Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
Manusia.
Apa manusia itu?
Mengapa manusia diciptakan?
Siapa yang menciptakan manusia?
Dimana manusia diciptakan?
Dari apa manusia diciptakan?
Manusia yang bagaimana yang selamat?
Manusia yang bagaimana yang tidak selamat?
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan tentang manusia ini dilontarkan oleh manusia itu sendiri tanpa ada yang tahu harus kemana mereka bertanya.
Ada kata-kata bijak yang menyatakan bahwa :
Man 'arofa nafsahu fa man 'arofa robbahu
“Barangsiapa mengenal dirinya pasti mengenal pengaturnya.”
Di Surat Adz-Dzaariyaat (51) ayat 56 diterangkan tentang tugas manusia dan jin. Di dunia ini.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Atau bisa kita buka pula dalam surat Al Mu’minun (23) ayat 115
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Maksudnya manusia oleh Alloh diberi tugas untuk menjadi pembantu Alloh (abid) dalam mengatur alam ini sesuai dengan kehendak Alloh.
Dalam Surat An-Nahl (16) ayat 70 Alloh menciptakan manusia sekehendak Alloh. Manusia tidak punya daya kekuatan untuk menentukan kapan, dimana, siapa, mengapa, dan bagaimana dalam penciptaan manusia :
“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Penjelasan ayat di atas tentang keadaan
manusia yang tidak mengetahui tentang penciptaan manusia dapat dilihat dalam Surat An-Nahl (16) ayat 78 :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Maksud dari ayat di atas bahwa manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan tidak memiliki apapun baik kekuatan batin (ruh) maupun kekuatan lahir (jasad).
Keadaan manusia tetap dalam aturan Alloh, baik dalam keadaan lemah maupun dalam keadaan kuat, keadaan sehat maupun sakit, keadaan kaya maupun miskin, keadaan berkuasa maupun keadaan dikuasai sesuai dengan surat Ar-Ruum (30) ayat 54 :
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Rasululloh SAW pernah bersabda tentang penciptaan manusia :
“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) dalam kurun waktu yang sama, kemudian menjadi mudzghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya. Lalu diperintahkan pula untuk menulis 4 perkara :
1. rizkinya
2. ajalnya
3. amalnya
4. celaka dan bahagianya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
II. Pengertian
1. Menurut Bahasa (Bahasa Arab)/ Lugoh
'nasa - ya'nasu - insaanan
Menjinakkan – jinak
Jadi jelas bahwa manusia dalam bahasa Arab sendiri adalah makhluk Alloh yang jinak dan menjinakkan.
2. Menurut Istilah :
a. Istilah dari manusia :
“Binatang yang berfikir atau berbicara”
“Manusia itu adalah binatang yang berfikir.”
b. Istilah dari Syar'i :
“Makhluk yang bertanggung jawab yang diciptakan dengan sifat Alloh”
3. Asal-Usul (Kejadian Makhluk/makhluk diciptakan)
Asal-usul manusia menurut Alloh terbagi atas :
a. Tanah (Jasad)
Manusia berdasarkan jasadnya terbentuk berasal dari :
Tanah – saripati tanah – sel telur (ovum) x sperma – nutfah – a’laqoh – mudzgoh – tulang – daging – jasad sempurna – untuk berkarya dan beramal.
- Tanah
Penciptaan manusia pertama kali telah Alloh jelaskan dalam Surat As-Sajdah (32) ayat 7 :
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”
Juga bisa kita lihat pada Surat Al-Hijr (15) ayat 28 :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
- Saripati tanah :
Penciptaan manusia-manusia yang selanjutnya dapat kita lihat dalam Surat As-Sajdah (32) ayat 8 :
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
- Sel telur :
Kemudian saripati tanah tersebut berhubungan/bercampur dengan sel telur, hal ini dapat kita lihat dalam Surat At-Thariq (86) ayat 6 – 7
“Dia diciptakan dari air yang terpancar,”
“yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada”.
Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa penciptaan manusia tidak mungkin tidak ada campur tangan dari Alloh.
- Nutfah :
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia berasal dari mani yang masuk ke dalam rahim, hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Qiyamah (75) ayat 37
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),”
- A’laqoh (segumpal darah) :
Proses penciptaan manusia yang lebih lengkap dapat kita lihat dalam Surat Al-Mu’minun (23) ayat 12 – 16 :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Alloh, Pencipta Yang Paling Baik.”
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
“Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”
Jadi setelah adanya percampuran antara mani dengan sel telur yang tersimpan di rahim, maka Alloh kemudian menjadikan segumpal darah (‘alaqah)
- Mudzgoh (segumpal daging) :
Pada surat dan ayat yang lain Alloh terangkan pula mengenai proses penciptaan manusia yaitu pada Surat Al-Hajj (22) ayat 5
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Dari ayat diatas jelaslah bahwa Alloh lah yang mengatur tentang penciptaan manusia, baik itu yang kemudian hidup dan kemudian mati. Jika hidup manusia diwajibkan untuk melihat kondisi bumi sebagai bahan ilmu tentang Alloh.
Segumpal daging yang diciptakan oleh Alloh ada yang dijadikan sempurna dan ada pula yang diciptakan tidak sempurna. Maksudnya ada yang diciptakan oleh Alloh cacat, ada pula yang diciptakan sempurna.
- Jasad :
Setelah penciptaan jasad kemudian Alloh mengambil kesaksian yang pertama yaitu dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 172-173 :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”
“atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"”
- Beramal :
Adapun ketika manusia telah lahir, ada kewajiban yang harus dijalankan manusia di muka bumi ini yaitu dalam Surat At-Taubah (9) ayat 105 :
“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".”
b. Ruh
Selain adanya jasad, ada pula bagian manusia yang disebut ruh. Ruh inilah yang diberi tugas dengan menggunakan potensi yang ada dalam jasad yaitu :
1. Pendengaran
2. penglihatan
3. hati
Semuanya harus digunakan untuk menjadi intelegensi (Aqal)
Intelegensi yang dimiliki manusia akan membentuk kebebasan. Kebebasan yang diberikan oleh Alloh ada 3 proses yaitu :
1. berkehendak
2. memilih
3. keputusan
Semua kebebasan diatas itu memikul tanggung jawab yang besar.
- Ruh :
Surat As-Sajdah (32) ayat 9 :
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Juga dapat kita lihat dalam Surat Al-Hijr (15) ayat 29 :
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Bila ada yang menanyakan tentang apa itu ruh, terbuat dari apakah ruh, berbentuk apa ruh itu, dapat kita jawab dengan Surat Al-Isra (17) ayat 85 :
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".”
- Intelegensi :
Tentang intelegensi, Alloh telah jelaskan dalam Surat Al-Isra (17) ayat 36 :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Dari intelegensi yang manusia dapatkan, terbentuk kebebasan yaitu :
1. Kehendak :
Manusia diberi oleh Alloh untuk berkehendak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 29 :
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
2. Memilih :
Tentang pilihan, Alloh telah jelaskan dalam Surat Al- Balad (90) ayat 10 :
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
Pilihan jalan yang dimaksud dalam ayat di atas dapat dilihat dalam Surat As-syams (91) ayat 8 :
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”
3. Keputusan :
Jika manusia telah memilih, mereka diharuskan memutuskan. Hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Qiyamah (75) ayat 14
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,”
Tetapi kadangkala keputusan itu tidak sesuai dengan aturan Alloh, maka mereka banyak yang menyesal. Hal ini termaktub dalam Surat Al-Mulk (67) ayat 10 :
“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".”
Sesuai dengan keputusan yang manusia ambil, maka manusia harus bertanggung jawab atas keputusan itu.
4. Tanggung Jawab :
Alloh telah terangkan tentang tanggung jawab manusia tentang keputusan yang mereka ambil yaitu pada Surat An-Nahl (16) ayat 111 :
“(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).”
Surat Toha (20) ayat 15 :
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”
III. Klasifikasi manusia menurut tingkatan intelegensinya :
Tingkatan kecerdasan manusia menurut Al-Qur’an ada tiga :
a. Tingkat TK/SD yang baru ditawari ( Insan )
Dalam surat Al-Ahzab (33) ayat 72, manusia telah ditawari untuk memikul amanat dari Alloh, dan mereka menerima karena kezaliman dan kebodohan mereka.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”
Atau dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 30 :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".”
Klasifikasi insan dapat kita lihat dalam Surat Al-Infithar (82) ayat 6
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”
Juga dalam Surat Al-Insyiqoq (84) ayat 6 :
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
Atau bisa kita lihat dalam Surat Al-Insaan (76) ayat 1
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Surat Al-Qiyamah (75) ayat 36 :
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
Di Surat Adz-Dzaariyaat (51) ayat 56 diterangkan tentang tugas manusia dan jin. Di dunia ini.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Padahal Allah telah menegaskan dalam Surat Yasin (36) ayat 60 :
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",”
Tetapi keadaan insan ini tidak mau diberi tahu, karena hanya menurutkan hawa nafsunya belaka. Hal ini bisa kita buka pada surat Al-A’raaf (7) ayat 176 :
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
Keadaan insan disisi Allah terdapat dalam Surat Al-Anfaal (8) ayat 22
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.”
Ciri-ciri insan dapat dibuka pada Surat Yasin (36) ayat 10 :
“Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.”
Juga dapat kita buka dalam surat Al-A’raaf (7) ayat 179 :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Atau dalam surat Al-mu’min (40) ayat 58 :
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”
Juga dalam surat As-Sajdah (32) ayat 13 :
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; "Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.”
Berdasarkan penjelasan diatas, maka manusia yang dikategorikan sebagai insan adalah :
1. Manusia yang tertipu dengan kehidupan dunia.
2. Berupaya maksimal untuk mengenal Alloh
3. Belum dapat disebut manusia
4. Belum diperintah dan belum dilarang (belum diberi tanggung jawab)
5. Kebanyakan menghuni neraka jahanam.
Bisa kita lihat dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 34 tentang keadaan manusia insan yang jahil :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Jadi maksud dari jahil yaitu manusia/makhluk Alloh yang tidak mau taat kepada aturan Alloh.
Bisa kita buka juga tentang keadaan manusia insan yang dzolim dalam surat Ash-Shaff (61) ayat 7 :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Catatan :
Alloh menciptakan manusia dengan potensi mata, telinga, dan hati, tetapi belum dapat menggunakannya. Oleh karena itu Alloh menginginkan manusia untuk mencari ilmu supaya dapat mengabdi atau menjadi pembantu Alloh dalam mengurus dunia ini. Atas pemberian tugas itu, Alloh mengharapkan manusia agar bersyukur.
Tetapi kebanyakan manusia tidak bisa menjaga amanat tersebut sehingga Alloh menyampaikan dalam surat Al Israa (17) ayat 100, yaitu :
“Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.”
b. Tingkat SMP/SMA yang sudah mulai mencari tahu ( Basyar ) RVCÛ¯
Surat Al-Kahfi (18) ayat 110
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".”
Maksudnya manusia itu harus berusaha keras untuk mencari kebenaran itu tidak hanya tinggal diam.
Dapat kita buka dalam surat Al-Kahfi (18) ayat 60-82 :
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"
Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".
Berdasarkan surat dan ayat diatas, Nabi Musa saja mencari ilmu yang benar dan lurus yaitu aturan Alloh dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh.
Dalam pencarian ilmu kita diwajibkan bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebenaran itu sehingga sampai pada tahap pengetahuan. Sesuai dengan surat Al-Insyiqaq (84) ayat 6 :
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
Belum tentu jika menurut perasaan kita benar, tetapi menurut Alloh pekerjaan kita itu salah. Oleh karena itu dalam melaksanakan perintah dari Alloh, jangan memakai perasaan, karena Alloh pasti akan menunjukkan hikmahnya kepada kita.
Maka tingkatan manusia basyar adalah manusia yang bersikap :
1. Beramal saleh untuk berkarya menurut kehendak Alloh
2. Mempersekutukan atau mencampuradukkan aturan manusia dan aturan Alloh
3. Mendapat dan menerima wahyu.
Wahyu yang langsung diterima oleh Rosul Muhammad adalah ruh
Ruh merupakan :
1. Cahaya
2. Petunjuk
Keduanya berada pada Al-Qur’an.
Untuk Umat setelah Rosul Muhammad SAW, meraka mendapat Al-Qur’an, mereka mendapatkan ilmu secara tidak langsung berupa Al-Qur’an dalam bentuk :
1. Cahaya
2. Petunjuk
Keduanya berada dalam Ruh. Sehingga ruh berarti juga wahyu.
Ruh adalah sesuatu yang membentuk :
1. motivasi
2. inspirasi
3. inisiatif
4. inovatif
Manusia yang berada dalam kategori basar, belum mendapat instruksi atau perintah untuk berda’wah.
Catatan :
Dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 10, Alloh telah menunjukkan kepada kita bahwa para pemuda yang berlindung di gua masih dalam taraf basyar.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".”
Jenis manusia yang termasuk dalam kategori basyar dapat kita buka dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 140 :
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
Jadi manusia dalam tahap basyar terdiri atas :
1. nasrani
2. yahudi
3. madjusi
Surat Al-Fath (48) ayat 27 :
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
Surat Yusuf (12) ayat 4
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
Surat Al-An’aam (6) ayat 125 :
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
Surat Al-Israa (17) ayat 9
Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
c. Tingkat Akademis yang sudah menemukan ( Annas )
Di dalam Al-Qur’an, golongan An-Nas ada 241 ayat yang terdiri atas :
1. 119 ayat yang memakai instruksi
2. 122 ayat belum ada instruksi
Dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 21 :
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Disuruh menyembah tetapi belum dijelaskan bagaimana cara menyembahnya.
Surat Yunus (10) ayat 104 :
Katakanlah: "Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman",
Manusia An-nas adalah manusia yang menuju manusia beriman dan manusia kafir. Oleh karena itu jangan ragu-ragu dalam memeluk Islam.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 130
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 140
ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Surat Ali Imran (3) ayat 67
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."
Surat An-Nisaa (4) ayat 1
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Surat Al-Hajj (22) ayat 1
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
Surat Al-Ashr (103) ayat 2
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
Maksudnya manusia dalam keadaan Insan (baik golongan Insan, Basyar, maupun An-nas) berada dalam kerugian
Surat Al-Ashr (103) ayat 3
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Maksudnya manusia yang beriman saja yang beruntung.
Tentang amal soleh dapat kita lihat pada Surat At-Taubah (9) ayat 120 :
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
Tingkatan An-nas telah diberi instruksi untuk berda’wah, bisa di lihat pada surat Al-Israa (17) ayat 71 :
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”
Dari ayat diatas, maka klasifikasi annas sudah diberi prosedur atau cara.
Struktur – Surat Keputusan – Pelantikan Jabatan
Pada golongan manusia An-nas terbagi dua (2). Dapat kita lihat pada surat At-Taubah (9) ayat 124 :
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
Dapat juga kita lihat pada surat Al-Hajj (22) ayat 19
Inilah dua golongan (golongan mu'min dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
Bisa kita lihat juga di surat At-Taghobun (64) ayat 2 :
“Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Bahwa ternyata setelah dberi jabatan ada yang menolak instruksi (kafir) dan ada yang menerima instruksi (mu’min).
a. Aladina A’manu
Surat Muhammad (47) ayat 2
Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 147
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Surat Yunus (10) ayat 32
Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
Surat Shaad (38) ayat 84
Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan".
Definisi / arti / pengertian Aladzina A’manu terdapat dalam Surat Al-Anfaal (8) ayat 72
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Jadi Aladina A’manu adalah orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai pengabdi Alloh, dan pimpinannya Alloh SWT.
Didalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana cara kerjanya Aladina A’manu dalam surat Al-Anfaal (8) ayat 2 – 4 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia.
Jadi menurut Alloh orang yang beriman adalah :
Orang-orang yang apabila disebutkan nama Alloh gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambahlah imannya. Dan orang-orang yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan Alloh pasti akan meninggikan derajatnya.
Cara kerja Aladzina A’manu adalah :
1. Gemetar hatinya apabila disebutkan Nama Alloh. Bisa kita buka juga pada surat Azzumar (39) ayat 23 :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”
2. Bertambah keimanannya apabila dibacakan (diundang-undangkan)
3. Mendirikan sholat
4. menunaikan zakat
5. dan Alloh akan meninggikan derajatnya.
Orang-orang yang disebut Aladzina a’manu adalah orang-orang yang disebut :
a. fasik
b. munafik
c. musyrik
d. dholim
e. murtad
f. mu’min
Catatan :
1. Pada terjemahan ada kata “Disebutkan” berarti dijelaskan/dijabarkan aturan-aturan Alloh
2. Pada terjemahan ada kata “Dibacakan” berarti diundang-undangkan sebagai dasar hukum.
Dari sini akan timbul pertanyaan :
1. Apakah sholat itu? Dan bagaimana “mendirikannya”?
2. Apakah zakat itu? Dan bagaimana “menunaikannya”?
Hal ini dapat kita buka pada surat An-Nahl ayat 63 :
“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.”
Jadi sholat yang harus didirikan adalah sholat yang menghubungkan antara kerajaan langit dan kerajaan bumi baik dalam ritual maupun faktual.
b. Aladzina Kafaru/Ahli Kitab (orang yang melawan)
Surat Al Maidah (5) ayat 72
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Surat Al-Anfaal (8) ayat 13 :
(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.
Surat An-Nisa (4) ayat 76 :
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
Surat Muhammad (47) ayat 1
Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 6 – 7 :
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Surat Al-Kafirun (109) ayat 1 – 6 :
Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku".
Kesimpulan :
Aladzina Kafaru adalah orang-orang yang telah tahu dan mengerti aturan-aturan Alloh, tetapi ia menolak dan menghalangi orang-orang untuk ikut/masuk aturan Alloh.
Ada beberapa surat yang menerangkan siapa yang disebut Aladzina Kafaru yaitu pada surat Al-Bayyinah (98) ayat 1 :
Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
Pada surat Al-Baqarah (2) ayat 109 :
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Juga pada surat Al-Maidah (5) ayat 68 :
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.
Jadi yang termasuk ahli kitab adalah orang-orang yang menyatakan Al-qur’an sebagai kitabnya tetapi tiak mau menjalankan dan menegakkan aturan alloh.
Dan pada surat Ar-Ruum (30) ayat 53 Alloh menegaskan tentang kesesatan Ahli kitab ketika ada yang menjelaskan Al-Qur’an, mereka oleh Alloh telah dibutakan mata hatinya dan kita tidak dapat memperdengarkan petunjuk Alloh ini :
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Atau bisa kita buka pula dalam surat Al Mu’minun (23) ayat 115
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Maksudnya manusia oleh Alloh diberi tugas untuk menjadi pembantu Alloh (abid) dalam mengatur alam ini sesuai dengan kehendak Alloh.
Dalam Surat An-Nahl (16) ayat 70 Alloh menciptakan manusia sekehendak Alloh. Manusia tidak punya daya kekuatan untuk menentukan kapan, dimana, siapa, mengapa, dan bagaimana dalam penciptaan manusia :
“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Penjelasan ayat di atas tentang keadaan
manusia yang tidak mengetahui tentang penciptaan manusia dapat dilihat dalam Surat An-Nahl (16) ayat 78 :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Maksud dari ayat di atas bahwa manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan tidak memiliki apapun baik kekuatan batin (ruh) maupun kekuatan lahir (jasad).
Keadaan manusia tetap dalam aturan Alloh, baik dalam keadaan lemah maupun dalam keadaan kuat, keadaan sehat maupun sakit, keadaan kaya maupun miskin, keadaan berkuasa maupun keadaan dikuasai sesuai dengan surat Ar-Ruum (30) ayat 54 :
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Rasululloh SAW pernah bersabda tentang penciptaan manusia :
“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) dalam kurun waktu yang sama, kemudian menjadi mudzghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya. Lalu diperintahkan pula untuk menulis 4 perkara :
1. rizkinya
2. ajalnya
3. amalnya
4. celaka dan bahagianya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
II. Pengertian
1. Menurut Bahasa (Bahasa Arab)/ Lugoh
'nasa - ya'nasu - insaanan
Menjinakkan – jinak
Jadi jelas bahwa manusia dalam bahasa Arab sendiri adalah makhluk Alloh yang jinak dan menjinakkan.
2. Menurut Istilah :
a. Istilah dari manusia :
“Binatang yang berfikir atau berbicara”
“Manusia itu adalah binatang yang berfikir.”
b. Istilah dari Syar'i :
“Makhluk yang bertanggung jawab yang diciptakan dengan sifat Alloh”
3. Asal-Usul (Kejadian Makhluk/makhluk diciptakan)
Asal-usul manusia menurut Alloh terbagi atas :
a. Tanah (Jasad)
Manusia berdasarkan jasadnya terbentuk berasal dari :
Tanah – saripati tanah – sel telur (ovum) x sperma – nutfah – a’laqoh – mudzgoh – tulang – daging – jasad sempurna – untuk berkarya dan beramal.
- Tanah
Penciptaan manusia pertama kali telah Alloh jelaskan dalam Surat As-Sajdah (32) ayat 7 :
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”
Juga bisa kita lihat pada Surat Al-Hijr (15) ayat 28 :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
- Saripati tanah :
Penciptaan manusia-manusia yang selanjutnya dapat kita lihat dalam Surat As-Sajdah (32) ayat 8 :
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
- Sel telur :
Kemudian saripati tanah tersebut berhubungan/bercampur dengan sel telur, hal ini dapat kita lihat dalam Surat At-Thariq (86) ayat 6 – 7
“Dia diciptakan dari air yang terpancar,”
“yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada”.
Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa penciptaan manusia tidak mungkin tidak ada campur tangan dari Alloh.
- Nutfah :
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia berasal dari mani yang masuk ke dalam rahim, hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Qiyamah (75) ayat 37
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),”
- A’laqoh (segumpal darah) :
Proses penciptaan manusia yang lebih lengkap dapat kita lihat dalam Surat Al-Mu’minun (23) ayat 12 – 16 :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Alloh, Pencipta Yang Paling Baik.”
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”
“Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”
Jadi setelah adanya percampuran antara mani dengan sel telur yang tersimpan di rahim, maka Alloh kemudian menjadikan segumpal darah (‘alaqah)
- Mudzgoh (segumpal daging) :
Pada surat dan ayat yang lain Alloh terangkan pula mengenai proses penciptaan manusia yaitu pada Surat Al-Hajj (22) ayat 5
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Dari ayat diatas jelaslah bahwa Alloh lah yang mengatur tentang penciptaan manusia, baik itu yang kemudian hidup dan kemudian mati. Jika hidup manusia diwajibkan untuk melihat kondisi bumi sebagai bahan ilmu tentang Alloh.
Segumpal daging yang diciptakan oleh Alloh ada yang dijadikan sempurna dan ada pula yang diciptakan tidak sempurna. Maksudnya ada yang diciptakan oleh Alloh cacat, ada pula yang diciptakan sempurna.
- Jasad :
Setelah penciptaan jasad kemudian Alloh mengambil kesaksian yang pertama yaitu dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 172-173 :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”
“atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"”
- Beramal :
Adapun ketika manusia telah lahir, ada kewajiban yang harus dijalankan manusia di muka bumi ini yaitu dalam Surat At-Taubah (9) ayat 105 :
“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Alloh dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Alloh) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".”
b. Ruh
Selain adanya jasad, ada pula bagian manusia yang disebut ruh. Ruh inilah yang diberi tugas dengan menggunakan potensi yang ada dalam jasad yaitu :
1. Pendengaran
2. penglihatan
3. hati
Semuanya harus digunakan untuk menjadi intelegensi (Aqal)
Intelegensi yang dimiliki manusia akan membentuk kebebasan. Kebebasan yang diberikan oleh Alloh ada 3 proses yaitu :
1. berkehendak
2. memilih
3. keputusan
Semua kebebasan diatas itu memikul tanggung jawab yang besar.
- Ruh :
Surat As-Sajdah (32) ayat 9 :
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Juga dapat kita lihat dalam Surat Al-Hijr (15) ayat 29 :
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Bila ada yang menanyakan tentang apa itu ruh, terbuat dari apakah ruh, berbentuk apa ruh itu, dapat kita jawab dengan Surat Al-Isra (17) ayat 85 :
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".”
- Intelegensi :
Tentang intelegensi, Alloh telah jelaskan dalam Surat Al-Isra (17) ayat 36 :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Dari intelegensi yang manusia dapatkan, terbentuk kebebasan yaitu :
1. Kehendak :
Manusia diberi oleh Alloh untuk berkehendak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 29 :
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”
2. Memilih :
Tentang pilihan, Alloh telah jelaskan dalam Surat Al- Balad (90) ayat 10 :
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
Pilihan jalan yang dimaksud dalam ayat di atas dapat dilihat dalam Surat As-syams (91) ayat 8 :
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”
3. Keputusan :
Jika manusia telah memilih, mereka diharuskan memutuskan. Hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Qiyamah (75) ayat 14
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,”
Tetapi kadangkala keputusan itu tidak sesuai dengan aturan Alloh, maka mereka banyak yang menyesal. Hal ini termaktub dalam Surat Al-Mulk (67) ayat 10 :
“Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".”
Sesuai dengan keputusan yang manusia ambil, maka manusia harus bertanggung jawab atas keputusan itu.
4. Tanggung Jawab :
Alloh telah terangkan tentang tanggung jawab manusia tentang keputusan yang mereka ambil yaitu pada Surat An-Nahl (16) ayat 111 :
“(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).”
Surat Toha (20) ayat 15 :
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.”
III. Klasifikasi manusia menurut tingkatan intelegensinya :
Tingkatan kecerdasan manusia menurut Al-Qur’an ada tiga :
a. Tingkat TK/SD yang baru ditawari ( Insan )
Dalam surat Al-Ahzab (33) ayat 72, manusia telah ditawari untuk memikul amanat dari Alloh, dan mereka menerima karena kezaliman dan kebodohan mereka.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”
Atau dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 30 :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".”
Klasifikasi insan dapat kita lihat dalam Surat Al-Infithar (82) ayat 6
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.”
Juga dalam Surat Al-Insyiqoq (84) ayat 6 :
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
Atau bisa kita lihat dalam Surat Al-Insaan (76) ayat 1
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Surat Al-Qiyamah (75) ayat 36 :
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
Di Surat Adz-Dzaariyaat (51) ayat 56 diterangkan tentang tugas manusia dan jin. Di dunia ini.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Padahal Allah telah menegaskan dalam Surat Yasin (36) ayat 60 :
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",”
Tetapi keadaan insan ini tidak mau diberi tahu, karena hanya menurutkan hawa nafsunya belaka. Hal ini bisa kita buka pada surat Al-A’raaf (7) ayat 176 :
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
Keadaan insan disisi Allah terdapat dalam Surat Al-Anfaal (8) ayat 22
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.”
Ciri-ciri insan dapat dibuka pada Surat Yasin (36) ayat 10 :
“Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.”
Juga dapat kita buka dalam surat Al-A’raaf (7) ayat 179 :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Atau dalam surat Al-mu’min (40) ayat 58 :
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”
Juga dalam surat As-Sajdah (32) ayat 13 :
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; "Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.”
Berdasarkan penjelasan diatas, maka manusia yang dikategorikan sebagai insan adalah :
1. Manusia yang tertipu dengan kehidupan dunia.
2. Berupaya maksimal untuk mengenal Alloh
3. Belum dapat disebut manusia
4. Belum diperintah dan belum dilarang (belum diberi tanggung jawab)
5. Kebanyakan menghuni neraka jahanam.
Bisa kita lihat dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 34 tentang keadaan manusia insan yang jahil :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Jadi maksud dari jahil yaitu manusia/makhluk Alloh yang tidak mau taat kepada aturan Alloh.
Bisa kita buka juga tentang keadaan manusia insan yang dzolim dalam surat Ash-Shaff (61) ayat 7 :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Catatan :
Alloh menciptakan manusia dengan potensi mata, telinga, dan hati, tetapi belum dapat menggunakannya. Oleh karena itu Alloh menginginkan manusia untuk mencari ilmu supaya dapat mengabdi atau menjadi pembantu Alloh dalam mengurus dunia ini. Atas pemberian tugas itu, Alloh mengharapkan manusia agar bersyukur.
Tetapi kebanyakan manusia tidak bisa menjaga amanat tersebut sehingga Alloh menyampaikan dalam surat Al Israa (17) ayat 100, yaitu :
“Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.”
b. Tingkat SMP/SMA yang sudah mulai mencari tahu ( Basyar ) RVCÛ¯
Surat Al-Kahfi (18) ayat 110
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".”
Maksudnya manusia itu harus berusaha keras untuk mencari kebenaran itu tidak hanya tinggal diam.
Dapat kita buka dalam surat Al-Kahfi (18) ayat 60-82 :
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"
Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".
Berdasarkan surat dan ayat diatas, Nabi Musa saja mencari ilmu yang benar dan lurus yaitu aturan Alloh dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh.
Dalam pencarian ilmu kita diwajibkan bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebenaran itu sehingga sampai pada tahap pengetahuan. Sesuai dengan surat Al-Insyiqaq (84) ayat 6 :
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
Belum tentu jika menurut perasaan kita benar, tetapi menurut Alloh pekerjaan kita itu salah. Oleh karena itu dalam melaksanakan perintah dari Alloh, jangan memakai perasaan, karena Alloh pasti akan menunjukkan hikmahnya kepada kita.
Maka tingkatan manusia basyar adalah manusia yang bersikap :
1. Beramal saleh untuk berkarya menurut kehendak Alloh
2. Mempersekutukan atau mencampuradukkan aturan manusia dan aturan Alloh
3. Mendapat dan menerima wahyu.
Wahyu yang langsung diterima oleh Rosul Muhammad adalah ruh
Ruh merupakan :
1. Cahaya
2. Petunjuk
Keduanya berada pada Al-Qur’an.
Untuk Umat setelah Rosul Muhammad SAW, meraka mendapat Al-Qur’an, mereka mendapatkan ilmu secara tidak langsung berupa Al-Qur’an dalam bentuk :
1. Cahaya
2. Petunjuk
Keduanya berada dalam Ruh. Sehingga ruh berarti juga wahyu.
Ruh adalah sesuatu yang membentuk :
1. motivasi
2. inspirasi
3. inisiatif
4. inovatif
Manusia yang berada dalam kategori basar, belum mendapat instruksi atau perintah untuk berda’wah.
Catatan :
Dalam Surat Al-Kahfi (18) ayat 10, Alloh telah menunjukkan kepada kita bahwa para pemuda yang berlindung di gua masih dalam taraf basyar.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".”
Jenis manusia yang termasuk dalam kategori basyar dapat kita buka dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 140 :
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
Jadi manusia dalam tahap basyar terdiri atas :
1. nasrani
2. yahudi
3. madjusi
Surat Al-Fath (48) ayat 27 :
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.
Surat Yusuf (12) ayat 4
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
Surat Al-An’aam (6) ayat 125 :
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
Surat Al-Israa (17) ayat 9
Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
c. Tingkat Akademis yang sudah menemukan ( Annas )
Di dalam Al-Qur’an, golongan An-Nas ada 241 ayat yang terdiri atas :
1. 119 ayat yang memakai instruksi
2. 122 ayat belum ada instruksi
Dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 21 :
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Disuruh menyembah tetapi belum dijelaskan bagaimana cara menyembahnya.
Surat Yunus (10) ayat 104 :
Katakanlah: "Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman",
Manusia An-nas adalah manusia yang menuju manusia beriman dan manusia kafir. Oleh karena itu jangan ragu-ragu dalam memeluk Islam.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 130
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 140
ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Surat Ali Imran (3) ayat 67
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."
Surat An-Nisaa (4) ayat 1
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Surat Al-Hajj (22) ayat 1
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
Surat Al-Ashr (103) ayat 2
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
Maksudnya manusia dalam keadaan Insan (baik golongan Insan, Basyar, maupun An-nas) berada dalam kerugian
Surat Al-Ashr (103) ayat 3
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Maksudnya manusia yang beriman saja yang beruntung.
Tentang amal soleh dapat kita lihat pada Surat At-Taubah (9) ayat 120 :
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
Tingkatan An-nas telah diberi instruksi untuk berda’wah, bisa di lihat pada surat Al-Israa (17) ayat 71 :
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”
Dari ayat diatas, maka klasifikasi annas sudah diberi prosedur atau cara.
Struktur – Surat Keputusan – Pelantikan Jabatan
Pada golongan manusia An-nas terbagi dua (2). Dapat kita lihat pada surat At-Taubah (9) ayat 124 :
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
Dapat juga kita lihat pada surat Al-Hajj (22) ayat 19
Inilah dua golongan (golongan mu'min dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
Bisa kita lihat juga di surat At-Taghobun (64) ayat 2 :
“Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Bahwa ternyata setelah dberi jabatan ada yang menolak instruksi (kafir) dan ada yang menerima instruksi (mu’min).
a. Aladina A’manu
Surat Muhammad (47) ayat 2
Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 147
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Surat Yunus (10) ayat 32
Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
Surat Shaad (38) ayat 84
Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan".
Definisi / arti / pengertian Aladzina A’manu terdapat dalam Surat Al-Anfaal (8) ayat 72
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Jadi Aladina A’manu adalah orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai pengabdi Alloh, dan pimpinannya Alloh SWT.
Didalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana cara kerjanya Aladina A’manu dalam surat Al-Anfaal (8) ayat 2 – 4 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal,
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia.
Jadi menurut Alloh orang yang beriman adalah :
Orang-orang yang apabila disebutkan nama Alloh gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambahlah imannya. Dan orang-orang yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan Alloh pasti akan meninggikan derajatnya.
Cara kerja Aladzina A’manu adalah :
1. Gemetar hatinya apabila disebutkan Nama Alloh. Bisa kita buka juga pada surat Azzumar (39) ayat 23 :
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”
2. Bertambah keimanannya apabila dibacakan (diundang-undangkan)
3. Mendirikan sholat
4. menunaikan zakat
5. dan Alloh akan meninggikan derajatnya.
Orang-orang yang disebut Aladzina a’manu adalah orang-orang yang disebut :
a. fasik
b. munafik
c. musyrik
d. dholim
e. murtad
f. mu’min
Catatan :
1. Pada terjemahan ada kata “Disebutkan” berarti dijelaskan/dijabarkan aturan-aturan Alloh
2. Pada terjemahan ada kata “Dibacakan” berarti diundang-undangkan sebagai dasar hukum.
Dari sini akan timbul pertanyaan :
1. Apakah sholat itu? Dan bagaimana “mendirikannya”?
2. Apakah zakat itu? Dan bagaimana “menunaikannya”?
Hal ini dapat kita buka pada surat An-Nahl ayat 63 :
“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.”
Jadi sholat yang harus didirikan adalah sholat yang menghubungkan antara kerajaan langit dan kerajaan bumi baik dalam ritual maupun faktual.
b. Aladzina Kafaru/Ahli Kitab (orang yang melawan)
Surat Al Maidah (5) ayat 72
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Surat Al-Anfaal (8) ayat 13 :
(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.
Surat An-Nisa (4) ayat 76 :
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
Surat Muhammad (47) ayat 1
Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.
Surat Al-Baqarah (2) ayat 6 – 7 :
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Surat Al-Kafirun (109) ayat 1 – 6 :
Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku".
Kesimpulan :
Aladzina Kafaru adalah orang-orang yang telah tahu dan mengerti aturan-aturan Alloh, tetapi ia menolak dan menghalangi orang-orang untuk ikut/masuk aturan Alloh.
Ada beberapa surat yang menerangkan siapa yang disebut Aladzina Kafaru yaitu pada surat Al-Bayyinah (98) ayat 1 :
Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
Pada surat Al-Baqarah (2) ayat 109 :
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Juga pada surat Al-Maidah (5) ayat 68 :
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.
Jadi yang termasuk ahli kitab adalah orang-orang yang menyatakan Al-qur’an sebagai kitabnya tetapi tiak mau menjalankan dan menegakkan aturan alloh.
Dan pada surat Ar-Ruum (30) ayat 53 Alloh menegaskan tentang kesesatan Ahli kitab ketika ada yang menjelaskan Al-Qur’an, mereka oleh Alloh telah dibutakan mata hatinya dan kita tidak dapat memperdengarkan petunjuk Alloh ini :
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar