<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366</id><updated>2012-02-17T03:24:29.720-08:00</updated><category term='Dakwah'/><category term='Tabligh'/><category term='fiqih'/><category term='Rumah Tangga'/><title type='text'>Tukang Pos</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-8064877468729441356</id><published>2012-02-03T09:29:00.001-08:00</published><updated>2012-02-09T22:03:47.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Bekal bagi seorang da'i</title><content type='html'>BEKAL BAGI SEORANG DA`I&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَـقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَـبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْاْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima,” (QS Ali ‘Imran 187).&lt;br /&gt;“Bekal bagi seorang da’i di dalam berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla”, dan bekal (zaad) bagi setiap muslim adalah apa yang telah diterangkan oleh Alloh Azza wa Jalla di dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى&lt;br /&gt;“Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqoroh : 197).&lt;br /&gt;Maka, bekal bagi tiap muslim adalah bertakwa kepada Alloh Azza wa Jalla, yang mana Alloh telah berulang kali menyebutkan takwa di dalam Al-Qur`an dan memerintahkannya, memuji orang yang melaksanakannya dan menjelaskan pahalanya, dan selainnya, diantaranya adalah firman-Nya :&lt;br /&gt;وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَـوَتُ وَالاَْرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ  الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَـاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ * أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّـتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الاَْنْهَـرُ خَـالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَـامِلِينَ&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS al-Baqoroh : 133-136)&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang mulia, mungkin anda bertanya-tanya, apakah takwa itu?&lt;br /&gt;Jawabnya adalah apa yang disebutkan di dalam sebuah atsar dari Tholq bin Habib rahimahullahu, beliau mengatakan :&lt;br /&gt;التقوى أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله&lt;br /&gt;“Takwa adalah, anda mengamalkan ketaatan kepada Alloh, di atas cahaya dari Alloh dan mengharap pahala Alloh.”&lt;br /&gt;Di dalam ucapan ini, terhimpun sifat : (1) ilmu, (2) amal, (3) mengharap pahala dan (4) takut akan siksa-Nya, maka inilah yang dimaksud dengan takwa itu.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kita semua mengetahui, bahwa seorang dai yang menyeru kepada Alloh Azza wa Jala, adalah manusia yang paling utama untuk berhias dengan karakteristik ini, bertakwa kepada Alloh di saat bersendirian maupun di hadapan manusia. Saya akan menyebutkan -dengan pertolongan Alloh Azza wa Jalla- pada kesempatan ini, hal-hal yang berkaitan dengan seorang da’i dan bekal-bekal yang sepatutnya seorang da’i mempersiapkannya.&lt;br /&gt;BEKAL PERTAMA : BERILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, bekal pertama yang seharusnya seorang da’i di jalan Alloh mempersiapkannya adalah, ia harus berada di atas ilmu yang diambil dari Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi wa Salam yang shahih lagi maqbul (diterima).&lt;br /&gt;قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِى أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;br /&gt;”Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata). Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".” (QS Yusuf : 108)&lt;br /&gt;Firman-Nya : ” Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata)”, artinya adalah : orang yang mengikuti beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam, wajib atasnya berdakwah mengajak kepada Alloh di atas bashiroh, tidak di atas kejahilan.&lt;br /&gt;Renungkanlah wahai para da’i firman Alloh ”di atas bashiroh”, yaitu di atas bashiroh pada tiga hal :&lt;br /&gt;Pertama : di atas bashiroh terhadap apa yang di dakwahkan, yaitu ia haruslah memiliki ilmu (baca : mengetahui) tentang hukum syar’i yang ia dakwahkan. Karena bisa jadi ia mengajak kepada sesuatu yang ia duga sebagai suatu hal yang wajib sedangkan di dalam syariat tidaklah wajib, sehingga ia mengharuskan hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh tidak mengharuskannya. Bisa jadi pula ia mengajak untuk meninggalkan sesuatu yang ia anggap haram sedangkan hal itu di dalam agama Alloh tidaklah haram, sehingga ia telah mengharamkan bagi hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh halalkan bagi mereka.&lt;br /&gt;Kedua : di atas bashiroh terhadap kondisi dakwah (baca : kondisi obyek dakwah, pent.), oleh karena itulah Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan padanya : &lt;br /&gt;إنك ستأتي قوماً أهل كتاب&lt;br /&gt;”Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab”1&lt;br /&gt;Supaya dia (Mu’adz) mengetahui kondisi mereka dan bersiap-siap di dalam menghadapi mereka. &lt;br /&gt;Oleh karena itulah kondisi mad’u (obyek dakwah) ini haruslah diketahui, sejauh mana tingkat pengetahuan mereka? Sejauh mana kemampuan mereka untuk debat? Sehingga ia dapat mempersiapkan dirinya untuk berdiskusi dan berdebat dengan mereka. Karena sesungguhnya, apabila anda memasuki perdebatan dengan orang seperti ini (baca : yang lebih berilmu dan pandai debat sedangkan anda tidak mengetahuinya, pent.), sedangkan dia lebih tangguh di dalam berdebat, maka hal ini akan menjadi bencana yang besar terhadap kebenaran, dan andalah penyebab ini semua.&lt;br /&gt;Anda jangan pernah sekali-kali beranggapan bahwa para pelaku kebatilan pasti gagal di dalam segala hal, padahal Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :&lt;br /&gt;إنكم تختصمون إليّ ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي له بنحو ما أسمع&lt;br /&gt;”Sesungguhnya kalian bertikai dan datang melapor kepadaku, dan bisa jadi ada sebagian dari kalian yang lebih lihai di dalam mengemukakan hujjahnya daripada yang lainnya sehingga aku memutuskannya berdasarkan apa yang aku dengar.”2&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bawah seorang yang bertikai, walaupun ia seorang yang batil, terkadang ia lebih cakap di dalam mengemukakan hujjahnya daripada orang lain, sehingga diputuskan berdasarkan apa yang didengar dari orang yang bertikai ini, oleh karena itulah anda harus mengetahui kondisi mad’u.&lt;br /&gt;Ketiga : di atas bashiroh di dalam cara berdakwah. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ&lt;br /&gt;”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125). &lt;br /&gt;Sebagian manusia, acap kali ketika menjumpai suatu kemungkaran, ia langsung terburu-buru main sikat. Ia tidak berfikir akan dampak dan akibat perbuatannya ini, tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi dirinya dan rekan seperjuangannya sesama da’i yang menyeru kepada kebenaran. Oleh karena itulah, wajib bagi seorang da’i sebelum ia bergerak (untuk berdakwah), hendaknya ia mencermati dan menimbang dampak-dampaknya. Kadang kala, dapat juga terjadi pada waktu itu, sesuatu yang tidak hanya akan memadamkan kobaran semangat atas aktivitasnya (baca : dakwahnya), namun perbuatannya ini juga akan memadamkan api semangatnya dan semangat orang selainnya di masa yang akan datang, mungkin dalam waktu dekat tidak lama lagi. Oleh karena itulah, aku menganjurkan saudara-saudaraku agar berdakwah dengan menggunakan hikmah dan ta`anni (baca : tenang, tidak tergesa-gesa), suatu perkara yang mungkin akan menunda waktu barang sedikit, namun hasilnya akan terpuji dengan kehendak Alloh Ta’ala.&lt;br /&gt;Apabila hal ini, maksudku da’i yang berbekal dengan ilmu shahih yang dibangun di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, merupakan sesuatu yang ditunjukkan oleh nash-nash syar’iyyah, maka sesungguhnya (hal ini) juga ditunjukkan oleh akal yang sharih (terang) yang tidak memiliki syubhat maupun syahwat. Karena bagaimana mungkin anda dapat berdakwah menyeru kepada Alloh Jalla wa ’Ala sedangkan anda tidak mengetahui jalan yang dapat mengantarkan kepada-Nya. Anda tidak mengetahu syariat-Nya lantas bagaimana bisa dibenarkan anda menjadi seorang da’i? Apabila seorang manusia tidak memiliki ilmu, maka yang utama baginya adalah belajar terlebih dahulu, baru kemudian ia boleh berdakwah.&lt;br /&gt;Mungkin akan ada yang berkata : ”Bukankah ucapan anda ini menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :&lt;br /&gt;بلغوا عني ولو آية&lt;br /&gt;”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.”3&lt;br /&gt;Maka saya jawab : tidak. Karena Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : ”Sampaikan dariku”, oleh karena itulah sesuatu yang kita sampaikan haruslah benar-benar dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam. Dan inilah yang kami maksudkan. Pada saat kami mengatakan bahwa da’i itu memerlukan ilmu, kami bukanlah memaksudkan bahwa ia haruslah mencapai tingkatan orang yang ahli di dalam ilmu, namun kami mengatakan bahwa ia tidak boleh berdakwah melainkan dengan apa yang ia ketahui saja dan tidak boleh berkata melainkan dengan yang ia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEKAL KEDUA : SABAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da’i haruslah bersabar di atas dakwahnya, sabar atas apa yang ia dakwahkan, sabar terhadap orang yang menentang dakwahnya dan sabar atas segala aral rintangan yang menghadangnya.&lt;br /&gt;Dengarkanlah firman Alloh Azza wa Jalla yang menyeru Nabi-Nya :&lt;br /&gt;تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَـقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang hal yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Huud : 49)&lt;br /&gt;Seorang manusia (baca : da’i) tetaplah harus bersabar atas segala hal yang merintangi dakwahnya berupa sanggahan-sanggahan dan bantahan-bantahan, karena setiap manusia yang menjadi seorang da’i di jalan Alloh azza wa Jalla pastilah akan menghadapi rintangan :&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً&lt;br /&gt;“Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS al-Furqon : 31)&lt;br /&gt;Demikian pula, seorang da’i haruslah bersabar atas segala aral rintangan yang menghadang, karena seorang da’i itu dia pastilah akan dihalang-halangi baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Lihatlah para Rasul Sholawatullah wa Salamuhu ‘alaihim yang dihalang-halangi dengan perkataan dan perbuatan, bacalah firman Alloh Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;كَذَلِكَ مَآ أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُواْ سَـحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ&lt;br /&gt;“Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (QS adz-Dzaariyaat : 51)&lt;br /&gt;Lihatlah kepada rasul pertama Nuh ‘alaihish Sholatu was Salam, suatu ketika kaumnya melewati beliau dan beliau pada saat itu sedang membangun sebuah kapal lalu mereka mencela beliau, lantas beliau berkata kepada mereka :&lt;br /&gt;إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ * فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ&lt;br /&gt;“(Berkatalah Nuh) Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Huud : 38-39)&lt;br /&gt;Mereka tidak hanya mengejek beliau, namun mulai mengancam untuk membunuh beliau :&lt;br /&gt;قَالُواْ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ ينُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُرْجُومِينَ&lt;br /&gt;“Mereka berkata: Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS asy-Syu’araa` : 116) &lt;br /&gt;Artinya adalah, beliau termasuk orang-orang yang akan dibunuh dengan cara dilempari batu. Di sini ada ancaman mati dengan implikasi bahwa “kami telah melempari orang selain dirimu” untuk menampakkan keperkasaan mereka (kaum nabi Nuh) sedangkan mereka telah merajam orang lain “dan engkau (Nuh) adalah termasuk mereka.” Namun, hal ini tidaklah memalingkan Nuh ’alaihish Sholatu was Salam dari dakwah beliau, bahkan beliau tetap terus melangsungkan dakwahnya sampai Alloh membukakan untuknya dan untuk kaumnya kemenangan.&lt;br /&gt;Dan lihatlah Ibrahim ‘alaihish Sholatu was Salam, kaumnya menghadapinya dengan penentangan, bahkan mereka mengolok-olok beliau di hadapan manusia :&lt;br /&gt;قَالُواْ فَأْتُواْ بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ&lt;br /&gt;“Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS al-Anbiyaa` : 61)&lt;br /&gt;Kemudian mereka mengancam akan membakar beliau :&lt;br /&gt;قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَانصُرُواْ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـعِلِينَ&lt;br /&gt;”Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS al-Anbiyaa` : 68).&lt;br /&gt;Lalu mereka mengobarkan api yang sangat besar dan mereka melempari beliau dengan manjanik (ketapel raksasa) disebabkan jarak mereka yang jauh dikarenakan panasnya api. Akan tetapi, Rabb pemilik keperkasaan dan kemuliaan ber-firman:&lt;br /&gt;قُلْنَا ينَارُ كُونِى بَرْداً وَسَلَـمَا عَلَى إِبْرَهِيمَ&lt;br /&gt;”Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS al-Anbiyaa` : 69).&lt;br /&gt;Maka menjadilah api itu dingin dan keselamatan baginya, dan kesudahan yang baik adalah bagi Ibrahim :&lt;br /&gt;وَأَرَادُواْ بِهِ كَيْداً فَجَعَلْنَـهُمُ الاَْخْسَرِينَ&lt;br /&gt;”Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS al-Anbiyaa` : 70)&lt;br /&gt;Lihatlah Musa ‘alaihish Sholatu was Salam dan bagaimana Fir’aun mengancam untuk membunuh beliau :&lt;br /&gt;ذَرُونِى أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّى أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُـمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى الاَْرْضِ الْفَسَادَ&lt;br /&gt;”Dan Berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarkanlah Aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, Karena Sesungguhnya Aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS Ghaafir : 26)&lt;br /&gt;Ia mengancam untuk membunuh beliau akan tetapi perkara berbicara lain dan kesudahan yang baik adalah bagi Musa ‘alaihish Sholatu was Salam &lt;br /&gt;وَحَاقَ بِـَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ&lt;br /&gt;”Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS Ghaafir : 45)&lt;br /&gt;Lihatlah Isa ‘alaihish Sholatu was Salam yang mendapatkan gangguan sampai-sampai kaum Yahudi menuduh beliau sebagai anak pezina. Mereka membunuh beliau dengan asumsi mereka dan menyalibnya, akan tetapi Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً  بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً&lt;br /&gt;”Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah Telah mengangkat Isa kepada-Nya]. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa` : 157-158).&lt;br /&gt;Maka Allohpun menyelamatkan beliau.&lt;br /&gt;Dan lihatlah penutup dan imam para nabi, penghulu anak cucu Adam, Muhammad Shallallahu ’alaihi was Salam. Alloh berfirman tentang beliau :&lt;br /&gt;يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَـكِرِينَ&lt;br /&gt;”Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS al-Anfaal : 30)&lt;br /&gt;وَيَقُولُونَ أَءِنَّا لَتَارِكُو ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ&lt;br /&gt;”Dan mereka berkata: Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?.” (QS ash-Shaaffaat : 36).&lt;br /&gt;Beliaupun menghadapi gangguan-gangguan berupa perkataan maupun perbuatan, yang mana hal ini telah diketahui oleh para ulama di dalam buku-buku Tarikh (Sejarah) dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau.&lt;br /&gt;Jadi, setiap da’i pastilah akan menemui gangguan, namun ia haruslah dapat bersabar menghadapinya. Oleh karena itulah, Alloh Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi was Salam :&lt;br /&gt;إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنزِيلاً&lt;br /&gt;”Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS al-Insaan : 23)&lt;br /&gt;Mungkin dikira Alloh akan berfirman (setelah ayat di atas) : ”maka bersyukurlah kamu atas nikmat Alloh yang menurunkan al-Qur`an ini secara berangsur-angsur”, padahal Alloh berfirman pada beliau :&lt;br /&gt;فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِماً أَوْ كَفُوراً&lt;br /&gt;”Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (QS al-Insaan : 24)&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa orang yang menerima al-Qur`an ini, maka ia akan mendapatkan perkara-perkara yang memerlukan kesabaran yang besar. Maka hendaklah bagi setiap da’i mau bersabar dan tetap terus berdakwah sampai Alloh membukakan (kemenangan) baginya, namun (ingat) Alloh tidak mesti membukakan (kemenangan) baginya di dalam kehidupannya. Yang penting adalah dakwahnya tetap langgeng di tengah-tengah manusia, tetap kuat dan diikuti. Tidaklah penting figur tersebut namun yang penting adalah dakwahnya, apabila dakwahnya tetap langgeng bahkan setelah ia matipun, maka sesungguhnya ia tetap hidup. Alloh Azza wa Jalla berfirman :&lt;br /&gt;أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَـهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِى النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَـتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَـفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;”Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS al-An’aam : 122)&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, kehidupan seorang da’i tidaklah berarti ruhnya tetap berada di dalam jasadnya saja, namun ucapannya tetap hidup di tengah-tengah manusia. &lt;br /&gt;Lihatlah kisah Abi Sufyan dengan Heraklius yang telah mendengar keluarnya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam. Ia memanggil Abu Sufyan dan menanyakan kepadanya tentang Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam, perihal keadaan beliau, nasab beliau, apa yang beliau dakwahkan dan keadaan para sahabat beliau.&lt;br /&gt;Kemudian ketika Abu Sufyan menceritakan kepadanya tentang apa yang ia tanyakan, Heraklius berkata kepadanya :&lt;br /&gt;إن كان ما تقول حقّاً فسيملك ما تحت قدمي هاتين&lt;br /&gt;”Apabila yang engkau katakan itu benar, maka ia akan segera menduduki negeri yang berada di bawah kedua telapak kakiku ini.”1&lt;br /&gt;Subhanalloh, siapa yang dapat membayangkan bahwa seorang raja imperium (Romawi), sebagaimana mereka katakan, dapat mengatakan perkataan ini tentang Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam, padahal beliau belum membebaskan jazirah Arab dari penghambaan terhadap syaithan dan hawa nafsu? siapa yang dapat membayangkan bahwa orang seperti ini akan mengatakan sebagaimana yang ia katakan? Oleh karena itulah ketika Abu Sufyan keluar, ia mengatakan kepada kaumnya :&lt;br /&gt;لقد أمِر أمر ابن أبي كبشة إنه ليخافه ملك بني الأصفر&lt;br /&gt;”Sungguh besar urusan Ibnu Abi Kabasyah (Muhammad, pent.), sesungguhnya ia benar-benar ditakuti oleh raja Bani al-Ashfar (Bizantium).” kata أمِر bermakna عظم ”agung/besar”, seperti firman Alloh :&lt;br /&gt;لقد جئت شيئاً إمرا&lt;br /&gt;”Engkau benar-benar datang dengan sesuatu yang besar/agung.” yaitu عظيماً ”besar”.&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam sungguh telah menguasai negeri yang berada di bawah kedua telapak kaki Heraklius dengan dakwah beliau, bukan dengan figur pribadi beliau. Karena dakwah beliau telah datang ke negeri ini dan memusnahkan berhala-berhala, kesyirikan dan para pelakunya. Para Khalifah Rasyidin menguasainya setelah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam, mereka menguasainya dengan dakwah dan syariat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaklah setiap da’i itu bersabar dan ia akan mendapatkan kesudahan yang baik selama rentang hidupnya dan setelah matinya, apabila ia jujur kepada Alloh.&lt;br /&gt;إِنَّ الأَرْضَ للَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَـقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;”Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-A’raaf : 128)&lt;br /&gt;Dan firman-Nya :&lt;br /&gt;إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ&lt;br /&gt;”Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf : 90)&lt;br /&gt;BEKAL KETIGA : HIKMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da’i haruslah menyeru kepada Alloh dengan hikmah. Dan alangkah pahitnya orang yang tidak memiliki hikmah. Dakwah ke jalan Alloh itu haruslah dengan : (1) hikmah, (2) mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), (3) berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang yang tidak zhalim, kemudian (4) berdebat dengan cara yang tidak lebih baik kepada orang yang zhalim. Jadi, tingkatan ini ada empat. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـادِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ&lt;br /&gt;”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl : 125)&lt;br /&gt;Dan firman-Nya :&lt;br /&gt;وَلاَ تُجَـادِلُواْ أَهْلَ الْكِتَـبِ إِلاَّ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ وَقُولُواْ ءَامَنَّا بِالَّذِى أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـهُنَا وَإِلَـهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;”Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS al-Ankabuut : 49)&lt;br /&gt;Sesungguhnya hikmah itu adalah : menetapkan suatu perkara secara mantap dan tepat, dengan cara menempatkan suatu perkara pada tempatnya dan mendudukkan suatu perkara pada kedudukannya. Bukanlah termasuk hikmah apabila anda tergesa-gesa dan menginginkan manusia akan berubah keadaannya dari keadaan mereka sebelumnya menjadi seperti keadaan para sahabat hanya dalam sehari semalam. &lt;br /&gt;Sesungguhnya hikmah itu menolak bahwa dunia ini dapat berubah hanya dalam sehari semalam, untuk itu haruslah ada kelapangan jiwa. Terimalah dari saudara yang anda dakwahi kebenaran yang ada padanya hari ini dan berjalanlah bersamanya secara bertahap sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia terbebas dari kebatilan. Janganlah anda beranggapan bahwa manusia itu memiliki tingkatan yang sama, karena sungguh berbeda antara orang yang jahil dengan orang yang menentang. Mungkin ada baiknya aku berikan beberapa contoh dari dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Pertama :&lt;br /&gt;Seorang pria badui datang dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang duduk-duduk dengan sahabat-sahabat beliau di Masjid. Kemudian Badui itu kencing di salah satu sisi dalam Masjid, maka para sahabatpun mencercanya, yaitu  menghardiknya dengan keras. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang telah Alloh anugerahkan kepada beliau al-Hikmah melarang mereka. Setelah Badui itu menyelesaikan kencingnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan untuk menyiram kencingnya dengan satu ember air. Mafsadat (kerusakan) pun sirna lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memanggil Badui tersebut dan berkata padanya : &lt;br /&gt;إن هذه المساجد لا يصلح فيها شيء من الأذى أو القذر إنما هي للصلاة وقراءة القرآن&lt;br /&gt;“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak selayaknya di dalamnya ada sesuatu dari gangguan dan kotoran, sesungguhnya masjid itu hanyalah untuk sholat dan membaca al-Qur`an.”1 Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.&lt;br /&gt;Maka menjadi lapanglah dada si Badui tersebut disebabkan oleh muamalah yang baik ini. Oleh karena itulah aku melihat sebagian ulama menukilkan ucapan Badui ini yang mengatakan:&lt;br /&gt;اللهم ارحمني ومحمداً ولا ترحم معنا أحداً&lt;br /&gt;“Ya Alloh rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau merahmati seorangpun selain kami.”&lt;br /&gt;Karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mensikapinya dengannya dengan sikap yang baik. Adapun para sahabat ridhwanullah ‘alaihi, mereka tergesa-gesa untuk menghilangkan kemungkaran, tanpa mempertimbangkan keadaan orang yang jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Kedua :&lt;br /&gt;Mu’awiyah bin al-Hakam radhiyallahu ‘anhu datang dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang sholat dengan manusia, kemudian salah seorang dari mereka bersin dan mengucapkan alhamdulillah –(perlu diketahui) apabila ada seseorang yang bersin maka hendaklah ia mengucapkan alhamdulillah baik di saat ia berdiri, ruku’ ataupun sujud-. &lt;br /&gt;Orang ini (orang yang bersin) mengucapkan alhamdulillah, maka sekonyong-konyong Mu’awiyah meresponnya dengan mengucapkan yarhamukalloh.  Hal ini termasuk berbicara di dalam sholat yang dapat membatalkan sholat. Orang-orang pun memandang dan melototi beliau. Mu’awiyah berkata : واثكل أمِّياه  “ibuku telah kehilanganku”, dan واثكل maknanya adalah kehilangan.&lt;br /&gt;Perkataan ini (yaitu واثكل أمِّياه) hanya diucapkan tanpa dimaksudkan makna sebenarnya. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah mengatakannya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengatakan : “Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang dapat mengendalikan itu semua?”, Mu’adz menjawab : “Tentu, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi bersabda : “Jagalah ini” dan beliau memegang lisannya sambil berkata, “jagalah ini”. Mu’adz berkata : “Apakah kita akan diadzab dikarenakan apa yang kita ucapkan?”, lantas Nabi menjawab :&lt;br /&gt;ثكلتك أمك يا معاذ وهل يكب الناس في النار على وجوههم أو قال على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم&lt;br /&gt;“Ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! Karena apa seseorang dijungkirbalikkan di dalam neraka di atas wajah mereka –atau dalam riwayat lain di atas hidung mereka- jika bukan karena buah perkataan lisan mereka.”2&lt;br /&gt;Kemudian Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan sholatnya, setelah selesai sholat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memanggil beliau. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata :&lt;br /&gt;فوالله ما رأيت معلماً أحسن تعليماً منه، اللهم صلي وسلم عليه، والله ما كهرني، ولا نهرني وإنما قال: «إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هي التسبيح، والتكبير وقراءة القرآن»&lt;br /&gt;“Demi Alloh, belum pernah aku melihat seorang pendidik yang lebih baik cara mendidiknya daripada beliau. Semoga Alloh senantiasa memberikan sholawat dan salam kepada beliau. Demi Alloh, beliau tidak membentakku dan tidak pula mencercaku. Beliau hanya berkata, Sesungguhnya di dalam sholat ini tidak selayaknya ada sesuatu dari ucapan manusia, sesungguhnya sholat itu adalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur`an.”3 Atau sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.&lt;br /&gt;Perhatikanlah dakwah yang dijawab oleh jiwa dan diterima oleh manusia serta melapangkan dada ini!!! &lt;br /&gt;Kita mengambil dari hadits ini sebuah faidah fiqhiyyah, yaitu bahwasanya barang siapa yang berbicara di dalam sholatnya, sedangkan ia tidak mengetahui bahwa hal itu dapat membatalkan sholat maka sholatnya sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Ketiga :&lt;br /&gt;Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata : ”Wahai Rasulullah, saya telah binasa”. Rasulullah bertanya : ”Apa yang membinasakanmu?”. Orang itu menjawab : ”Aku telah menggauli isteriku di bulan Ramadhan sedang aku tengah berpuasa.” Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkannya untuk memerdekakan budak, dan orang itu menjawab, “saya tidak punya”. Lalu Nabi memerintahkannya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut, dan orang itu menjawab, ”aku tidak mampu”. Kemudian beliau memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin dan ia tetap menjawab, ”aku tidak mampu”. Lalu orang itu duduk dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang sambil membawa kurma sembari berkata : ”ambillah ini dan sedekahkanlah”. &lt;br /&gt;Namun, orang tersebut menjadi loba terhadap kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang mana beliau adalah orang yang paling dermawan terhadap makhluk, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah orang yang paling mulia. Orang itu berkata : ”Apakah aku harus mensedekahkannya kepada orang yang lebih miskin dariku wahai Rasulullah? Demi Alloh, tidak ada keluarga yang lebih miskin dari keluargaku diantara dua dataran (Madinah) ini.”&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun tertawa sampai tampak gigi taring atau gerahamnya. Hal ini disebabkan karena orang ini datang dengan rasa takut dan berkata ”aku telah binasa” namun ia pergi dengan gembira. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Berilah makan keluargamu dengan kurma ini.”4 Maka orang itupun pergi dengan rasa tenang dan riang gembira dengan agama ini dan dengan kemudahan dari da’i pertama (yaitu Nabi) terhadap agama Islam ini, semoga Shalawat dan Salam Alloh senantiasa tercurahkan kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Keempat :&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan bagaimana cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bermuamalah dengan orang yang berbuat dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat seorang pria menggunakan cincin emas di tangannya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melepaskan cincin itu dengan tangannya yang mulia dan membuangnya di tanah. Lalu beliau bersabda :&lt;br /&gt;يعمد أحدكم إلى جمرة من نار فيضعها في يده&lt;br /&gt;”Salah seorang dari kalian dengan sengaja melihat bara api dari neraka dan menggunakannya di tangannya”&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak bermuamalah dengannya sebagaimana bentuk muamalah pada awal tadi, namun beliau mencabutnya dari tangannya dan membuangnya ke tanah. Tidak lama setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pergi, ada seseorang yang berkata kepada orang itu : ”ambil cincinmu dan manfaatkanlah”. Namun orang itu berkata :&lt;br /&gt;والله لا آخذ خاتماً طرحه النبي صلى الله عليه وسلّم&lt;br /&gt;”Demi Alloh, saya tidak akan mengambil cincin yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah membuangnya.” 5&lt;br /&gt;Allohuakbar, sungguh ini adalah kepatuhan yang luar biasa pada sahabat ridhawanullahu ’alaihim.&lt;br /&gt;Yang penting, wajib bagi da’i untuk berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla dengan hikmah dan tidaklah sama antara orang jahil dengan orang berilmu, antara orang yang menentang dengan orang yang menerima. Setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada kondisinya tersendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-8064877468729441356?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/8064877468729441356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/bekal-bagi-seorang-dai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/8064877468729441356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/8064877468729441356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/bekal-bagi-seorang-dai.html' title='Bekal bagi seorang da&apos;i'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-7360092527787619766</id><published>2012-02-03T09:06:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T20:03:26.036-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqih'/><title type='text'>Keutamaan Shalat Tahajud</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEUTAMAAN SHOLAT TAHAJUD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hukum shalat malam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS11. Huud ayat 114)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS25. Al Furqaan ayat 64)&lt;br /&gt;dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Penjelasan] Maksudnya orang-orang yang sembahyang tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS26. Asy Syu'araa' ayat 219)&lt;br /&gt;dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keutamaan shalat malam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS11. Huud ayat 114) &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS17. Al Israa' ayat 79)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS50. Qaaf ayat 40)&lt;br /&gt;dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan Setiap selesai sembahyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 2)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari[p], kecuali sedikit (daripadanya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[penjelasan] Sembahyang malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 20)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS76. Al Insaan ayat 26)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Waktu shalat malam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS3. Ali 'Imran ayat 113)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus[p], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;[penjelasan] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS17. Al Israa' ayat 79)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS25. Al Furqaan ayat 64)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;64. dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS26. Asy Syu'araa' ayat 218)&lt;br /&gt;yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS32. As Sajdah ayat 16)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[p] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;[penjelasan] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS39. Az Zumar ayat 9)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS50. Qaaf ayat 40)&lt;br /&gt;dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan Setiap selesai sembahyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS51. Adz Dzariyaat ayat 17)&lt;br /&gt;di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 6)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ukuran bacaan pada shalat malam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS20. Thaahaa ayat 130)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 3)&lt;br /&gt;(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Etika shalat malam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 20)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Meninggalkan kesulitan dalam shalat malam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS2. Al Baqarah ayat 286)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(QS73. Al Muzzammil ayat 20)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-7360092527787619766?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/7360092527787619766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/keutamaan-shalat-tahajud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/7360092527787619766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/7360092527787619766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/keutamaan-shalat-tahajud.html' title='Keutamaan Shalat Tahajud'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-5341587223455338572</id><published>2012-02-03T09:05:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T21:43:27.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>10 Pembatalan keislaman</title><content type='html'>SEPULUH PEMBATAL KEISLAMAN&lt;br /&gt;Judul Asli Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penulis : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wash&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh : Al Akh Luqman Yazid&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang ulama Ahlus Sunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi, menulis dalam kitab beliau yang ringkas “Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid,” sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman seseorang. Tidak seperti batalnya jenis-jenis ibadah lain di dalam Islam yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama, batalnya keislaman berakibat fatal kepada pelakunya di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;Sepuluh Pembatal Keislaman itu ialah:&lt;br /&gt;1. Syirik&lt;br /&gt;2. Murtad&lt;br /&gt;3. Tidak mengkafirkan orang kafir&lt;br /&gt;4. Meyakini kebenaran hukum thaghut&lt;br /&gt;5. Membenci sunnah Rasul, meskipun diamalkan&lt;br /&gt;6. Mengolok-ngolok agama&lt;br /&gt;7. Sihir&lt;br /&gt;8. Menolong orang kafir untuk memerangi kaum muslimin&lt;br /&gt;9. Meyakini bolehnya keluar dari syariat Allah&lt;br /&gt;10.Tidak mau mempelajari dan mengamalkan agama&lt;br /&gt;Pertama, Syirik Kepada Allah&lt;br /&gt;Yaitu menjadikan perantara (sekutu) antara si hamba dengan Allah. Si hamba berdoa kepada para perantara ini, meminta syafa’at, bertawakkal, beristighatsah kepada mereka, bernazar untuk mereka, dan menyembelih kurban dengan menyebut nama mereka. Si hamba berkeyakinan segala perbuatannya tersebut dapat menolak mudharat atau mendatangkan manfaat. Orang yang semacam ini telah kafir. &lt;br /&gt;Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (48)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(An-Nisa: 48)&lt;br /&gt;Dan firman Allah :&lt;br /&gt;إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار &lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (Al Maidah: 72)&lt;br /&gt;Kedua, Murtad Dari Islam&lt;br /&gt;Masuk dan memeluk agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunisme, Ba’tsi, paham sekuler, Freemasonry, dan faham-faham kufur lainnya. &lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ &lt;br /&gt;“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah, 217)&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui..” (Al Maidah: 54)&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman: &lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ(29) وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ(30)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan", sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad, 25-30)&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman, &lt;br /&gt;الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(5)&lt;br /&gt;“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (Al Maidah ayat 5).&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu katanya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengubah agamanya, maka bunuhlah dia!’”(Riwayat Bukhari, No. 2854)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu'anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak halal (menumpahkan darah seorang muslim) yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bersaksi pula bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan tiga perkara: orang sudah menikah tapi berzina, orang yang membunuh jiwa (tanpa hak), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah.” (Bukhari 6484, Muslim 1674)&lt;br /&gt;Ketiga, Tidak Mengkafirkan Orang Yang Jelas-Jelas Kafir. &lt;br /&gt;Baik itu Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik), Majusi, Musyrik, Atheis, atau lainnya dari jenis bentuk kekufuran. Atau, meragukan kekafiran mereka, membenarkan mazhab dan pemikiran mereka. Yang demikian ini juga dihukumi kafir. Allah sendiri telah mengkafirkan, namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, tidak mengkafirkan orang yang dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan artinya berpaling dari keputusan Allah. &lt;br /&gt;Allah berfirman : &lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah:6)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Sedangkan yang dimaksud dengan musyrikin ialah orang yang menyembah Allah sekaligus menyembah sesembahan yang lain. &lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17) &lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ &lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah : 72)&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(73)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(150)أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا(151)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa: 150-151)&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: &lt;br /&gt;وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)&lt;br /&gt;“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’:140)&lt;br /&gt;Keempat, Meyakini Bahwa Petunjuk Selain Nabi Lebih Sempurna Daripada Petunjuk Beliau. &lt;br /&gt;Atau, meyakini bahwa hukum selain hukumnya lebih baik. Seperti orang-orang yang lebih mengutamakan hukum thagut daripada hukum-hukum-Nya. Termasuk ke dalamnya orang yang beryakinan bahwa aturan dan perundangan yang dibuat oleh manusia lebih utama daripada syariat Islam. Atau, meyakini bahwa hukum-hukum Islam tidak layak diterapkan pada masa sekarang. Atau, meyakini bahwa Islam merupakan penyebab kemunduran kaum muslimin.&lt;br /&gt;Atau, meyakini bahwa Islam itu sebatas hubungan seorang hamba dengan tuhannya, dan tidak mencakup perkara-perkara kehidupan lainnya. &lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang berpandangan bahwa pelaksanaan hukum Allah dalam masalah memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina muhshan (yang sudah pernah nikah, red), tidak relevan dengan kondisi sekarang.&lt;br /&gt;Juga termasuk ke dalamnya orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah dalam muamalah, penerapan hukum pidana, dan yang lainnya. Meskipun dia tidak meyakini bahwa hal itu lebih baik daripada hukum yang ditetapkan oleh syariat Islam. Lantaran dengan begitu dia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dan setiap orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari perkara-perkara agama yang sudah pasti secara ijma’ seperti zina, riba, khamr, dan berhukum dengan selain syariat Allah maka dia itu kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. &lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman : &lt;br /&gt;أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50)&lt;br /&gt;“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah : 50)&lt;br /&gt;إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 44)&lt;br /&gt;وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(45)&lt;br /&gt;“Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah :45)&lt;br /&gt;وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(47)&lt;br /&gt;“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maidah : 47)&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran : 19)&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا(56)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran : 56)&lt;br /&gt;فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65)&lt;br /&gt;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”&lt;br /&gt;(An Nisaa :65).&lt;br /&gt;Kelima, Membenci Apa Yang Dibawa Oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. &lt;br /&gt;Kendati dia tetap mengamalkannya. Maka, orang ini dihukumi kafir.&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ(8)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(9)&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad:8-9)&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan", sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 25-28)&lt;br /&gt;Keenam, Memperolok-Olok Syariat Islam&lt;br /&gt;Termasuk orang yang memperolok-olok Allah atau Rasul-Nya, Al-Qur`an, agama Islam, malaikat, dan para ulama yakni ilmu yang dihasung ulama tersebut. Atau, memperolok-olok salah satu syiar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di Arafah, masjid, azan, jenggot, sunnah-sunnah Nabi, dan lain-lain dari syiar-syiar Allah dan kesucian Islam, maka orang yang semacam ini dihukumi kafir.&lt;br /&gt;وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65)لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ(66)&lt;br /&gt;“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema`afkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah :65,66)&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ(29)وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ(30)وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ(31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ(32)وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ(33)فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ(34)عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ(35)هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(36)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Muthaffifin:29-36)&lt;br /&gt;وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(68)&lt;br /&gt;“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am :68)&lt;br /&gt;وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)&lt;br /&gt;“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’ :140)&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ(30)&lt;br /&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”(Al-Hajj :30)&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ(32)&lt;br /&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj :32)&lt;br /&gt;Ketujuh, sihir&lt;br /&gt;Di antaranya ialah ash-sharf dan al-‘athf. Adapun ash-sharf ialah praktik sihir yang bertujuan mengubah hasrat dan keinginan manusia, seperti memalingkan kecintaan seorang suami kepada istrinya, dan sebaliknya. Adapun al-athf ialah praktik sihir yang dapat membuat orang menjadi cenderung mencintai sesuatu yang tadinya biasa-biasa saja dengan cara-cara syaitan.&lt;br /&gt;وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍوَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(102)&lt;br /&gt;“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah : 102)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah (Penangkal pada anak-anak untuk menolak penyakit ‘ain atau bala, red), dan thiwalah (Semacam jimat supaya suami cinta istri atau sebaliknya , red) itu syirik.” (Riwayat Abu Dawud No.3883, dihasankan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad II/17-18, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No.1632 dan di dalam Silsilah Ash-Shahihah No.331, dan dishahihkan Imam Hakim IV/217 dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, juga diriwayatkan Ibnu Majah No.3530, Thabrani dalam Al-Kabir X/262, Ibnu Hibban XIII/456, Al-Baihaqi IX/350)&lt;br /&gt;Kedelapan, Membantu Orang-Orang Kafir Memerangi Kaum Muslimin&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ(51)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah : 51) &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ(100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ ءَايَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”&lt;br /&gt;(Ali Imran : 100,101) &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ(149)بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ(150)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran : 149-150) &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ(1) إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ(2)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Mumtahanah : 1-2) &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ(13)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (Mumtahanah : 13)&lt;br /&gt;Kesembilan, Meyakini Bahwa Ada Manusia Yang Boleh Keluar Dari Syariat Muhammad&lt;br /&gt;Orang yang meyakini bahwa ada manusia yang boleh keluar dari syariat Muhammad sebagaimana bolehnya Khidir keluar dari syariatnya Musa AS maka orang yang semacamn ini pu dihukumi kafir. Karena menurutnya, Nabi itu diutus pada suatu kaum tertentu, dan setiap orang tidak mwajib mengikutinya. &lt;br /&gt;Adapun nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutuskan kepada sluruh umat Manusia, sehingga tidak dihalalkan bagvi siapapun menyelisihi beliau ataupun keluar dari syariat beliau.&lt;br /&gt;قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(158)&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Al-A’raf :158)&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)&lt;br /&gt;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.“ (Al-Anbiya’:107)&lt;br /&gt;تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا(1)&lt;br /&gt;“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (Al-Furqan:1)&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28)&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (As-Saba:28)&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari Radiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang rasul pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang dialami musuh sejauh perjalanan selama satu bulan, dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaklah dia shalat, dan dihalalkan bagiku ghanimah yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Bukhari 328, Muslim 521)&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran :19)&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿۸٥﴾ [آل عمران: ۸٥]&lt;br /&gt;[85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS Aali 'Imroon: 85]&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا &lt;br /&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [QS Al Maaidah: 3] &lt;br /&gt;أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴿۸۳﴾ [آل عمران: ۸۳] &lt;br /&gt;[83] Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksai dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [QS Aali 'Imroon: 83] &lt;br /&gt;Dan di dalam hadits:”Demi Allah seadainya Musa AS itu hidup niscaya dia mengikutiku.” (dihasankan Al-Albani Al Irwaul Ghalil II/34 no.1589, dan beliau menyebutkan delapan jalan dan Ibnu Katsir juga menyebutkannya dalam tafsir ayat 81-82 dari surat Ali Imran, II/78, edisi revisi dan diha’ifkan Syaikh Muqbil dalam Hdazal Maudhi’.&lt;br /&gt;Kesepuluh, Berpaling Dari Agama Allah Ta’ala&lt;br /&gt;Tidak mau mempelajari dan mengamalkannya: berpaling dari pokok-pokok agama ini, yang menjadikan seseorang itu muslim meskipun dia jahil dalam masalah-masalah agama yang rinci. Karena mengetahui tentang masalah agama yang rinci itu, terkadang tidak bisa dilakukan kecuali oleh ulama dan penuntut ilmu.&lt;br /&gt;(Surat-surat lain yang mendukung masalah ini) : &lt;br /&gt;مَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ ﴿۳﴾ [الأحقاف: ۳] &lt;br /&gt;Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Ahqaf : 3)&lt;br /&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ &lt;br /&gt;Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Sajadah: 22)&lt;br /&gt;وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴿١٢٤﴾ [طه: ١٢٤] &lt;br /&gt;Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha:124)&lt;br /&gt;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ ءَاتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا ﴿۹۹﴾ مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا ﴿١۰۰﴾ خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلاً ﴿١۰١﴾ [طه: ۹۹ - ١۰١]&lt;br /&gt;[99] Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur'an). [100] Barangsiapa berpaling daripada Al Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, [101] mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (Thaha:99-101). /**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-5341587223455338572?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/5341587223455338572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/10-pembatalan-keislaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5341587223455338572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5341587223455338572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/10-pembatalan-keislaman.html' title='10 Pembatalan keislaman'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-332011599056168956</id><published>2012-02-03T09:01:00.000-08:00</published><updated>2012-02-14T21:06:17.841-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumah Tangga'/><title type='text'>10 Langkah Perbaikan Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;MUQADIMAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon pertolongan, serta ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu-nafsu kita dan dari kejahatan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang ditunjuki oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tak seorangpun yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.&lt;br /&gt;Rumah Adalah Nikmat&lt;br /&gt; Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal." (An-Nahl : 80)&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan kesempurnaan nikmatNya atas hambaNya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat"1.&lt;br /&gt;Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang. Ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, isteri dan anak-anak, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga. Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu". (Al-Ahzab :33)&lt;br /&gt;Jika kita renungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, yakni orang-orang yang hidup di pengasingan, di emper-emper jalan serta para pengungsi yang terusir di perkemahan-perkemahan sementara, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah.&lt;br /&gt;Tentu kita akan terenyuh dan haru mendengar orang misalnya dia mengatakan : "Saya tidak punya tempat tinggal tetap, terkadang saya tidur di  rumah si Fulan, terkadang di kedai kopi, kebun atau di pantai, lemari bajuku ada di dalam mobil."Dengan demikian kitapun akan memahami makna keberserakan karena tidak memiliki tempat tinggal atau rumah.&lt;br /&gt;Ketika Allah menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah mengambil  dari mereka nikmat rumah ini, Allah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Allah berfirman :&lt;br /&gt; "Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali."(Al-Hasyr:2)&lt;br /&gt;Kemudian firmanNya :&lt;br /&gt; "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan". (Al-Hasyr : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Mendorong Seorang Muslim Memperhatikan ISHLAH (Perbaikan) Rumahnya&lt;br /&gt;1. Menjaga diri dan keluarga dari api Neraka jahannam dan selamat dari siksa yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".(At-Tahrim : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah pada hari perhitungan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya".&lt;br /&gt;Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasa'i  dalam Isyratun Nisaa', hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami' , no.1775; As-Silsilah Ash-  Shahihah no.1636.&lt;br /&gt;Rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan dan menolak dari bahaya manusia lain; rumah adalah tempat perlindungan ketika terjadi fitnah.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beruntunglah orang yang menguasai lisannya dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya."&lt;br /&gt; Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jamul  Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahihul Jami', no.3824.&lt;br /&gt;Dan beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lima hal yang barangsiapa mengerjakan salah satu daripadanya maka ia akan mendapat jaminan dari Allah. Yaitu : orang yang menjenguk orang sakit, orang yang pergi berperang, atau orang yang masuk kepada pemimpinnya dengan maksud menegurnya atau mengingatkannya, atau ia duduk di rumahnya sehingga orang-orang selamat dari (ganggguan)nya dan ia selamat dari (gangguan) mereka.&lt;br /&gt; Hadits riwayat Ahmad (5/241)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Keselamatan seseorang dalam fitnah yaitu ia senantiasa mendiami rumahnya."&lt;br /&gt;Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnadul Firdaus dari Abu Musa; terdapat dalam Shahihul jami' no.3543, dan lafazh dalam Sunan oleh Ibnu Abi 'Ashim, no.1021. Dalam takhrij ia mengatakan : "Hadits ini shahih ".&lt;br /&gt;Orang muslim akan merasakan faedah ini ketika ia dalam keadaan terasing, saat ia tidak bisa mengubah kemungkaran-kemungkaran yang ada, maka dia memiliki tempat berlindung ketika kembali ke rumahnya. Rumah itu akan menjaga dirinya dari perbuatan dan pandangan yang dilarang, menjaga isterinya dari tabarruj (pamer kecantikan dan hiasan) serta menjaga anak-anaknya dari teman-teman yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sesungguhnya sebagian besar manusia menggunakan waktunya di dalam rumah, terutama pada musim panas dan dingin yang menyengat, pada musim hujan, permulaan dan akhir siang, ketika selesai dari kerja atau sekolah, karena waktu-waktu tersebut semestinya digunakan dalam ketaatan, jika tidak tentu akan habis untuk melakukan hal-hal yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ini yang terpenting, bahwa perhatian terhadap rumah merupakan sarana yang paling besar untuk membangun masyarakat muslim. Karena sebuah masyarakat ini terdiri dari rumah-rumah. Rumah-rumah adalah unsur dasar suatu masyarakat. Rumah-rumah itu membentuk suatu perkampungan dan perkampungan-perkampungan itu adalah masyarakat. Jika unsur dasarnya baik, niscaya  akan kuatlah masyarakat kita dengan hukum-hukum Allah, tegar dalam menghadapi musuh-musuh Allah, memancarkan kebaikan dan tidak menimbulkan kejahatan.&lt;br /&gt;Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penopang-penopang perbaikan bagi masyarakat, berupa da'i-da'i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya,  isteri shalihah, ibu pendidik dari unsur pembangun kebaikan lainnya.&lt;br /&gt;Nasehat 1 : Memilih Istri yang Tepat&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 32).&lt;br /&gt;Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana)".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 9/132.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah''.&lt;br /&gt; Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i   dari Ibnu Amr, Shahihul Jami', hadits no.3407&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami', hadits no. 5231&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab  dari Abu Umamah. Lihat Shahihul Jami', hadits no. 4285&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat."&lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad (3/245), dari Anas. Dikatakan dalam Irwa 'ul Ghalil, "Hadits ini shahih", 6/195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana'ah)".&lt;br /&gt;Hadits riwayat lbnu Majah, No. 1861 dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan : "Lebih sedikit tipu dayanya".&lt;br /&gt;Sebagaimana wanita shalihah adalah salah satu dari empat  sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak shalihah adalah salah satu dari empat penyebab sengsara. Seperti tersebut dalam hadits shahih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu"&lt;br /&gt;Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, perlu memperhatikan dengan seksama keadaan orang yang meminang wanita muslimah tersebut, baru mengabulkannya setelah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika datang kepadamu seseorang yang engkau rela terhadap akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak kamu lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Ibnu Majah 1967, dalam As-Silsilah Ash-Shahihah,  hadits no. 1022&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di atas perlu dilakukan dengan misalnya bertanya, melakukan penelitian, mencari informasi dan sumber-sumber berita terpercaya agar tidak merusak dan menghancurkan rumah tangga yang bersangkutan."&lt;br /&gt;Laki-laki shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan keluar tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali dengan susah payah.&lt;br /&gt;Nasehat 2  Upaya Membentuk (Memperbaiki) Isteri.&lt;br /&gt;Apabila isteri adalah wanita shalihah maka inilah kenikmatan serta anugerah besar dari Allah Ta'ala. Jika tidak demikian, maka kewajiban kepala rumah tangga adalah mengupayakan perbaikan.&lt;br /&gt;Hal itu bisa terjadi karena beberapa keadaan. Misalnya, sejak semula ia memang menikah dengan wanita yang sama sekali tidak memiliki agama, karena laki-laki tersebut dulunya, memang tidak memperdulikan persoalan agama. Atau ia menikahi wanita tersebut dengan harapan kelak ia bisa memperbaikinya, atau karena tekanan keluarganya. Dalam keadaan seperti ini ia harus benar-benar berusaha sepenuhnya sehingga bisa melakukan perbaikan.&lt;br /&gt;Suami juga harus memahami dan menghayati benar, bahwa persoalan hidayah (petunjuk) adalah hak Allah. Allah-lah yang memperbaiki. Dan di antara karunia Allah atas hambaNya Zakaria adalah sebagaimana difirmankan:&lt;br /&gt;"Dan Kami perbaiki isterinya". (Al-Anbiya': 90).&lt;br /&gt;Perbaikan itu baik berupa perbaikan fisik maupun agama. Ibnu Abbas berkata: "Dahulunya, isteri Nabi Zakaria adalah mandul, tidak bisa melahirkan maka Allah menjadikannya bisa melahirkan". Atha' berkata: Sebelumnya, ia adalah panjang lidah, kemudian Allah memperbaikinya".  &lt;br /&gt;Beberapa Metode Memperbaiki Isteri:&lt;br /&gt;1. Memperhatikan dan meluruskan berbagai macam ibadahnya kepada Allah Ta'ala. Kupasan dalam masalah ini ada dalam pembahasan berikutnya.&lt;br /&gt;2. Upaya meningkatkan keimanannya, misalnya:&lt;br /&gt;a. Menganjurkannya bangun malam untuk shalat  tahajjud&lt;br /&gt;b. Membaca Al Qur'anul Karim.&lt;br /&gt;c. Menghafalkan dzikir dan do'a pada waktu dan kesempatan tertentu.&lt;br /&gt;d. Menganjurkannya melakukan banyak sedekah.&lt;br /&gt;e. Membaca buku-buku Islami yang bermanfaat.&lt;br /&gt;f. Mendengar rekaman kaset yang bermanfaat, baik     dalam soal keimanan maupun    ilmiah dan terus mengupayakan tambahan koleksi kaset yang sejenis.&lt;br /&gt;g. Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk  tujuan yang baik.&lt;br /&gt;h. Menjauhkannya dari segala keburukan dan pintu-pintunya. Misalnya dengan menjauhkannya dari&lt;br /&gt;Nasehat 3 Jadikanlah Rumah sebagai Tempat Dzikrullah (Mengingat Allah).&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Muslim dan Abu Musa 1/539, cet. Abdul Baqi&lt;br /&gt;Karena itu rumah harus dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam dzikir, baik itu dzikir dalam hati maupun dengan lisan, shalat, atau membaca shalawat dan Al-Qur'an, atau mempelajari ilmu-ilmu  agama, atau membaca buku-buku lain yang bermanfaat.&lt;br /&gt;Saat ini betapa banyak rumah-rumah umat Islam yang mati karena tidak ada dzikrullah di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Dan apatah lagi manakala yang menjadi dendangan di dalam rumah itu adalah syair-syair dan lagu-lagu setan, menggunjing, berdusta dan mengadu domba?&lt;br /&gt;Apatah lagi jika rumah-rumah itu penuh dengan kemaksiatan dari kemungkaran, seperti ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis) yang diharamkan, tabarruj (pamer kecantikan dan perhiasan) di antara kerabat yang bukan mahram atau kepada tetangga yang masuk ke rumah?&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin malaikat akan masuk ke dalam rumah dengan keadaan seperti itu? Karena itu hidupkanlah rumahmu dengan dzikrullah! Mudah-mudahan Allah merahmatimu.&lt;br /&gt;Nasehat 4 Jadikan Rumahmu sebagai Kiblat.&lt;br /&gt;Maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat beribadah.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman". (Yunus: 87).&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata: "Maksud disuruh menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kiblat yaitu mereka diperintahkan menjadikan rumah-rumah itu sebagai masjid-masjid (tempat beribadah)".&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata: "Hal ini seakan-akan - Wallahu a'lam - ketika siksaan dan tekanan Fir'aun beserta kaumnya semakin menjadi-jadi atas mereka, maka mereka disuruh untuk memperbanyak shalat sebagaimana firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu".(Al-Baqarah: 153).&lt;br /&gt;Dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menghadapi suatu kesulitan, maka beliau melakukan shalat".  Tafsir Ibnu Katsir, 4/224.&lt;br /&gt;Hal ini menegaskan betapa pentingnya ibadah di dalam rumah-rumah,terutama dalam waktu-waktu lemah dan tertindas, demikian pula dalam beberapa kesempatan manakala umat Islam tidak mampu menampakkan shalat mereka di hadapan orang-orang  kafir. Dalam hal ini kita juga perlu mengenang kembali mihrab Maryam, yakni tempat peribadatan beliau, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;"Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab ia dapati makanan di sisinya". (Ali lmran : 37)&lt;br /&gt;Para sahabat  juga amat memperhatikan masalah shalat di dalam rumah mereka selain shalat fardhu. Sebuah kisah di bawah ini menarik sebagai pelajaran bagi kita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Mahmud bin Ar-Rabi' Al-Anshari, bahwasanya Itban bin Malik - dia adalah  salah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam yang ikut serta dalam perang Badar,  dari kaum Anshar - ia datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam lalu berkata: "Wahai  Rasulullah!, pandanganku telah menipu tapi aku tetap shalat bersama  kaumku, apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka sehingga aku (tak) bisa datang ke masjid mereka dan shalat bersama-sama, aku sangat ingin wahai Rasulullah, jika engkau datang kepadaku dan shalat di dalam rumahku sehingga aku menjadikannya sebagai mushalla (tempat shalat)". Ia berkata: "Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda kepadanya: "Akan aku lakukan Insya Allah"." Itban berkata: "Maka berangkatlah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dan Abu Bakar ketika siang (nampak) meninggi, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam meminta izin, lalu aku mengizinkan kepada beliau, beliau tidak duduk sebelum masuk ke dalam rumah lalu beliau berkata: "Di bagian mana engkau suka aku melakukan shalat dari rumahmu?" . "Ia berkata: "Maka aku tunjukkan kepada beliau suatu arah dari rumahku, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam berdiri kemudian bertakbir, lalu kami semua berdiri membentuk barisan, dan Nabi Shallallahu alaihi wasalam shalat dua rakaat kemudian salam".&lt;br /&gt;Dalam memetik pelajaran dari hadits di atas, Ibnu Hajar berkata: "Di situ merupakan pelajaran, agar kita menggunakan tempat tertentu untuk melakukan shalat dalam rumah. Adapun larangan untuk menjadikan tempat tertentu dalam masjid adalah hadits Abu Daud, dan itu jika ia lakukan untuk riya' atau yang sejenisnya. Menjadikan tempat tertentu dalam rumah untuk shalat bukan berarti menjadikan tempat tersebut sebagai wakaf - tidak berlaku padanya hukum wakaf - meski secara umum dikategorikan dengan nama masjid.&lt;br /&gt;Nasehat 5 Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga.&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiallahu anha ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasullah Shallallahu alaihi wasalam, mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan: "Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah!".&lt;br /&gt;"Allah mengasihi laki-laki yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya sehingga shalat, jika tidak mau ia memerciki wajahnya dengan air".&lt;br /&gt; Hadits riwayat Muslim, Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, 6/23&lt;br /&gt;Membiasakan dan menganjurkan para isteri dengan sedekah adalah sesuatu yang bisa menambah iman, ia adalah perkara agung yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai segenap wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku melihat bahwa kalian adalah sebanyak-banyak penduduk Neraka".&lt;br /&gt; Hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud; Shahihul jami' , hadits no.3488&lt;br /&gt;Di antara ide yang bagus adalah dengan meletakkan kotak amal di dalam rumah untuk orang-orang miskin, sehingga setiap uang yang masuk di dalamnya menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkannya, karena itulah tempat dana mereka di dalam rumah orang muslim. Jika anggota keluarga melihat seorang panutan yang membiasakan puasa pada ayyaamul biidh (pertengahan setiap bulan Qamariyah, yaitu tanggal 13, 14, 15), hari Senin dan Kamis, hari Asyura, hari Arafah, pada banyak hari di bulan Muharram dan Sya'ban, niscaya akan mendorong anggota keluarga yang lain untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat 6  Perhatian pada Do'a-do'a yang Disyari'atkan dan Sunnah- sunnah yang Berkaitan dengan Rumah.&lt;br /&gt;Di antara contohnya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a masuk rumah:&lt;br /&gt;Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika seorang laki-laki masuk ke dalam rumahnya kemudian menyebut nama Allah Ta'ala ketika dia masuk dan ketika makan, setan berkata: "Kamu tidak punya (jatah)  tempat tidur dan tidak pula (jatah) makan di sini". Dan jika ia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika  ia masuk, maka setan berkata: "Kamu mendapatkan (jatah) tempat tidur". Dan jika tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: "Kamu mendapat (jatah) tempat tidur dan makan"."&lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad, Al-Musnad, 3/346 dan Muslim, 3/1599&lt;br /&gt;Do'a keluar rumah:&lt;br /&gt;Dalam Sunan, Abu Daud meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya kemudian mengatakan: "Dengan Nama Allah, aku bertawakkal (menggantungkan diri) kepada Allah, tidak ada daya dan  kekuatan  kecuali dengan pertolongan Allah", niscaya akan dikatakan kepadanya: "Cukuplah bagimu, engkau telah diberi petunjuk, engkau telah dicukupi dan dijaga ", sehingga setan menyingkir daripadanya. Lalu setan lain berkata kepadanya: "Bagaimana kamu dapat (menggoda) laki-laki yang telah ditunjuki, dicukupi dan dijaga?"."&lt;br /&gt;Hadits riwayat Abu Daud no. 5095, At-Tirmidzi No. 3426. Dalam  Shahihul Jami', hadits no. 499.&lt;br /&gt;Siwak:&lt;br /&gt;Dalam Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallah 'anha,  bahwasanya ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika masuk rumahnya beliau memulai dengan siwak".&lt;br /&gt;Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah, bab 15, no. 44.&lt;br /&gt;Nasehat 7 Rutin Membaca Surat Al-Baqarah di Rumah untuk Mengusir Setan.&lt;br /&gt;Hadits-hadits dalam hal ini di antaranya:&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan! Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah".&lt;br /&gt;Shahih Muslim, cet.Abdul Baqi, 1/539&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bacalah surat Al-Baqarah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya setan itu tidak masuk ke dalam rumah yang dibaca di dalamnya surat Al-Baqarah".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak,  1/561; dan dalam Shahihul Jami ', hadits no.1170&lt;br /&gt;Tentang keutamaan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah serta pengaruh membacanya bagi rumah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala menulis suatu kitab sebelum Ia menciptakan langit dan bumi sekitar 2000 tahun, Ia berada di atas Arsy, dan menurunkan dua ayat penutup (terakhir) dari surat Al-Baqarah. Dan tidaklah setan mendekat rumah yang dibacakan di dalamnya kedua ayat tersebut selama tiga malam".&lt;br /&gt;Hadits riwayat Imam Ahmad di dalam As-Sunnah 4/274 dan selainnya; dalam Shahihul Jami' hadits no. 1799&lt;br /&gt;Nasehat 8 Pengajaran Anggota Keluarga&lt;br /&gt;       Mengajar adalah kewajiban yang mesti dilakukan oleh pemimpin keluarga, sebagai realisasi dari perintah Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu".(At-Tahrim : 6)&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan dasar pengajaran dan pendidikan anggota keluarga, memerintah mereka dengan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran.&lt;br /&gt;Di bawah ini beberapa komentar ahli tafsir tentang ayat tersebut, yakni berkaitan dengan kewajiban yang dibebankan atas pemimpin keluarga.&lt;br /&gt;Qatadah berkata: "Dia hendaknya memerintah mereka berbuat taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta mencegah mereka dari maksiat kepadaNya, hendaknya menjaga mereka untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan membantu mereka di dalamnya. Maka apabila kamu melihat kemaksiatan, hendaknya engkau menjauhkan mereka daripadanya dan memperingatkan untuk tidak melakukannya".&lt;br /&gt;Adh-Dhahhak dan Muqatil berkata: "Merupakan kewajiban setiap muslim, mengajarkan keluarganya dari kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka dan apa yang dilarangNya".&lt;br /&gt;Ali radhiyallah 'anhu berkata: "Ajari dan didiklah mereka''.&lt;br /&gt;Al-Kiya At-Thabari berkata: "Kita hendaknya mengajari anak-anak dan keluarga kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan dalam persoalan adab dan akhlak".&lt;br /&gt;Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan kita mengajari wanita-wanita hamba sahaya yakni bukan orang-orang merdeka, maka apatah lagi halnya dengan anak-anakmu dan keluargamu yang merdeka?"&lt;br /&gt;Imam Bukhari dalam Shahihnya, Bab Pengajaran Laki-laki terhadap Hamba Sahaya Perempuan dan Keluarganya, menulis hadits:&lt;br /&gt;"Tiga orang yang mendapat dua pahala: ... dan seorang laki-laki yang memiliki hamba sahaya perempuan lalu ia mendidiknya dengan baik, mengajarinya dengan baik, kemudian ia memerdekakannya lalu menikahinya maka baginya dua pahala."&lt;br /&gt;Dalam penjelasan hadits di atas, Ibnu Hajar mengatakan: "Kesesuaian hadits dengan tarjamah - maksudnya judul bab - dalam masalah hamba sahaya perempuan adalah dengan nash, dan dalam masalah keluarga dengan qiyas, sebab perhatian dengan keluarga yang merdeka dalam soal pengajaran kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Allah dan sunnah-sunnah RasulNya adalah sesuatu yang harus dan pasti daripada perhatian kepada hamba sahaya perempuan".&lt;br /&gt;Karena adanya kesibukan dan tugas serta ikatan lainnya, seseorang terkadang melalaikan untuk meluangkan waktu bagi dirinya sehingga bisa mengajari   keluarganya. Diantara jalan pemecahan dalam persoalan ini yaitu hendaknya ia mengkhususkan satu hari dalam seminggu sebagai waktu untuk keluarga, bahkan mungkin juga dengan melibatkan kerabat lain untuk menyelenggarakan majlis ilmu di dalam rumah. Ia hendaknya mengumumkan hari tersebut kepada segenap anggota keluarga dan menganjurkan agar menepati dan datang pada hari yang ditentukan tersebut, bahkan akan lebih efektif dengan menggunakan kata-kata wajib datang, baik kepada dirinya maupun kepada anggota keluarga yang lain.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah apa yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini.&lt;br /&gt;Imam Bukhari berkata: "Bab: Apakah bagi Wanita Disediakan Hari Khusus untuk Ilmu?" Lalu menyitir hadits Abu Said AI-Khudri radhiyallah 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Kami telah dikalahkan kaum laki-laki dalam berkhidmat kepadamu. Karena itu buatlah untuk kami suatu hari dari dirimu", lalu Rasulullah menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka, maka Rasulullah menasehati dan memerintah mereka".&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: "Dalam riwayat Sahl bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah mirip dengan kisah ini, ia berkata; "Perjanjian kalian di rumah Fulanah, maka Rasulullah mendatangi mereka dan memberi ceramah kepada mereka".&lt;br /&gt;Dari hadits di atas kita bisa mengambil kesimpulan akan pentingnya pengajaran para wanita di rumah-rumah, dan mengingatkan pula betapa besar perhatian para sahabat wanita dalam masalah belajar, juga menunjukkan bahwa mengkonsentrasikan semangat mengajar hanya kepada laki-laki dengan meninggalkan kaum perempuan adalah kelalaian besar bagi para da'i dan pemimpin rumah tangga.&lt;br /&gt;Sebagian pembaca mungkin berkata, misalnya, kita telah meluangkan waktu sehari dalam seminggu dan hal itu telah kita kabarkan kepada anggota keluarga, lalu apa yang akan kita berikan dalam pertemuan (majlis) tersebut? Dan bagaimana pula memulainya?&lt;br /&gt;Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, Penulis mencoba memberikan ide dalam hal ini sehingga menjadi manhaj (program) sederhana untuk mengajar anggota keluarga secara umum dan bagi kaum wanita secara khusus.&lt;br /&gt;1. Tafsir Al-Allamah Ibnu Sa'di, yaitu Tafsir Taisirul Karim Ar-Rahman fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan. Terdiri dari tujuh jilid, sajian dan bahasannya mudah. Tafsir ini  bisa ditelaah dan dibaca  per surat atau semampunya dalam tiap kali pertemuan.&lt;br /&gt;2. Riyaadhus Shaalihiin dengan komentar dan keterangan serta pelajaran yang bisa diambil dari tiap hadits. Dalam hal ini bisa merujuk pada kitab Nuzhatul Muttaqiin.&lt;br /&gt;3. Husnul Uswah Bimaa Tsabata Anillaahi Waraasuulihi Fin Niswah, karya Shiddiq Hasan Khan.&lt;br /&gt;    Juga penting untuk diajarkan kepada wanita beberapa persoalan hukum Fiqh, misalnya hukum bersuci, haid, hukum shalat dan zakat, puasa dan haji, jika mereka telah bisa melakukannya. Demikian pula hukum makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, sunnah-sunnah fithrah dan para mahram, hukum lagu, gambar dan sebagainya.&lt;br /&gt;Diantara rujukan-rujukan penting dalam masalah-masalah tersebut yaitu fatwa-fatwa para ulama seperti  Kumpulan Fatwa-fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan ulama lain selain mereka, baik itu berupa buku maupun rekaman kaset.&lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori jadwal pengajaran wanita dan keluarga adalah dengan mengingatkan mereka untuk mengikuti berbagai ceramah umum yang disampaikan oleh para ulama, atau penuntut ilmu yang terpercaya di bidangnya, jika hal itu memungkinkan. Hal ini untuk  lebih banyak memberikan referensi dan sumber pengajaran, juga untuk variasi. Selain itu, jangan pula dilupakan masalah mendengarkan siaran bacaan Al-Qur'anul Karim serta menaruh perhatian kepadanya. Termasuk dalam rangka penyediaan sarana pengajaran adalah mengingatkan anggota keluarga pada hari-hari tertentu agar para wanitanya menghadiri pameran buku-buku Islami, tetapi dengan memperhatikan syarat-syarat bepergian yang telah diatur agama.&lt;br /&gt;Nasehat 9 Buatlah Perpustakaan di Rumahmu.&lt;br /&gt;Diantara yang membantu proses pengajaran bagi keluarga adalah pemberian kesempatan belajar agama dan menolong mereka untuk mentaati hukum-hukum syari'at dengan membuat perpustakaan Islami di rumah, tidak harus besar, tetapi yang penting bisa menyeleksi buku-buku penting, menempatkannya di tempat yang gampang diambil, dan menganjurkan anggota keluarga untuk membacanya.&lt;br /&gt;Hendaknya di ruang dalam disediakan kamar yang bersih dan tertib, cocok untuk meletakkan buku-buku, di kamar tidur, juga di ruang tamu, sehingga memberi kesempatan kepada anggota keluarga membaca buku dengan teratur.&lt;br /&gt;Diantara perpustakaan yang baik dan efisien - dan sungguh Allah menyukai yang baik dan efisien - adalah hendaknya perpustakaan itu memuat sumber-sumber yang daripadanya bisa dicari pembahasan dan pemecahan berbagai persoalan, bermanfaat untuk anak-anak di sekolah, dan hendaknya pula memuat buku-buku untuk tingkatan yang beragam, juga buku-buku yang cocok untuk orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;Jika mampu, bisa pula disediakan buku-buku khusus hadiah bagi tamu dan kawan anak-anak serta pengunjung keluarga, dengan memperhatikan soal cetakan yang menarik, buku yang telah diteliti dan diedit, serta hadits-haditsnya telah diperiksa dan diterangkan secara jelas.&lt;br /&gt;Untuk mendirikan perpustakaan rumah, bila perlu dengan memanfaatkan pameran buku-buku setelah  meminta pertimbangan terlebih dahulu kepada orang yang ahli di bidang perbukuan.&lt;br /&gt;Diantara yang membantu memudahkan mencari buku-buku yaitu dengan menertibkan buku-buku sesuai judulnya. Misalnya buku tafsir di rak tersendiri, demikian pula hadits, fiqh dan seterusnya.&lt;br /&gt;Salah seorang anggota keluarga hendaknya ada yang menata daftar buku sesuai dengan abjad dan judul, sehingga akan memudahkan pencarian buku, sebab terkadang banyak orang yang senang membaca buku-buku keislaman menanyakan nama-nama buku tersebut pada perpustakaan rumah.&lt;br /&gt;Di bawah ini ada beberapa usulan dalam masalah buku-buku penting bagi perpustakaan rumah:&lt;br /&gt;Tafsir: Tafsir lbnu Katsir, Tafsir lbnu Sa'di, Zubdatut Tafsir karya Al-Asyqar, Ushulut Tafsir karya Ibnu Utsaimin, dan Lamahaat fii Uluumil Qur'an karya Muhammad Ash-Shabbagh.&lt;br /&gt;Hadits: Shahihul Kalimith Thayyib, Amalul Muslimi fil Yaum wal Lailah, Riyadhush Shalihin dan keterangannya, Nuzhatul Muttaqin, Mukhtashar Shahih Al-Bukhari karya Zubaidi, Mukhtashar Shahih Muslim karya Mundziri dan Al-Albani, Shahihul Jami' Ash-Shaghier, Dha'iful Jami' Ash-Shaghier,  Shahihut Targhib wat Tarhib, As-Sunnah wa Makaanatuha fit Tasyrii', Qawa'id wa Fawa'id Minal Arba'in An-Nawawiyyah karya Nazhim Sulthan.&lt;br /&gt;Aqidah: Fathul Majid Syarhu KitabAt-Tauhid dengan tahqiq Arna'uth, A'laamus Sunnah Al-Mansyurah karya Al Hakamy,Ma'arijul Qabuul karya Al—Hakamy, Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah dengan tahqiq Al-Albani, Silsilatul Aqidah karya Umar Sulaiman Al-Asyqar (8 ]uz), Asyraatus Saa'ah karya Dr.Yusuf Al-Wabil.&lt;br /&gt;Fiqh: Manaarus Sabil karya Ibnu Dhauyan, Irwaa'ul Ghalil karya Al-Albani, Zaadul Ma'aad, Al-Mughni karya lbnu Qudamah, Fiqhus Sunnah, Al-Mulakhkhashul Fiqhi karya  Shalih Fauzan, Majmu'atu Fataawa Al-Ulama (Abdul Aziz bin Baaz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah bin Jibrin), Shifatu Shalatin Nabi karya Al-Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Mukhtashar Ahkamil Jana'iz karya Al-Albani.&lt;br /&gt;Akhlaq dan Penyucian Jiwa:  Tahdzibu Madarijis  Salikin, Al-Fawa'id, Al-Jawabul Kaafi, Thariqul Hijratain Wa Baabus Sa'adatain, Al-Wabilush Shayyib Wa Rafi'ul Kalimith Thayyib karya Ibnul Qayyim, Lathaa'iful Ma'aarif karya lbnu Rajab, Tahdzibu Mau'idhatil Mukminin, Ghidza'ul Albab.&lt;br /&gt;Sejarah dan Biografi: Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Mukhtashar Asy-Syamaa'il Al Muhammadiyyah karya At-Turmudzi, Ar-Rahiiqul Makhtum, Al- 'Awaashim minal Qawaashim karya Ibnul Arabi tahqiq Al-Khatib dan Al-Istanbuli, Al-Mujtama' Al- Madani (1-2) karya Akram Al-Umari, Siyaru  A'laamin Nubala', Manhaju Kitaabit Tarikh Al-lslami karya Muhammad bin Shamil As-Salami.&lt;br /&gt;Di samping itu, masih banyak lagi kitab-kitab di bidang lain. Misalnya kitab-kitab karya Imam Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab-kitab karya Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Juga kitab-kitab Umar bin Sulaiman Al-Asyqar, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al-Muqaddam, Ustadz Muhammad Muhammad Husein, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Ustadz Husain Uwaisyah dalam Raqa'iq, Kitabul Iman karya Muhammad Na'im Yasin, Al-Wala' wal Bara' karya Syaikh Muhammad Said Al-Qahthani, Al-Inhiraafaat Al-Aqadiyah fil Qarnain Ats-Tsani Asyar wats Tsalits Asyar karya Ali Az-Zahrani, Al-Muslimun Wa Dhahiratul Hazimah An-Nafsiyah karya Abdullah Asy-Syabanah, Al-Mar'ah Bainal Fiqhi Wal Qaanun karya  Musthafa As-Siba'i, Al-UsratuI Muslimah Amamal Fiidiyu Wal Tilifiziyun karya Marwan Kack, Al-Mar'atul  Muslimah  I'daaduha Wa Mas'uuliyatuha karya Ahmad Ababathin, Mas'uuliyatul Ab Al-Muslim fii Tarbiyati Waladihi karya Adnan Baharits, Hijaabul Muslimah karya Ahmad Al-Barazi, Wajaa 'a Daurul Majuus karya Abdullah Muhammad Al-Gharib, juga buku-buku karya Syaikh Bakar Abu Zaid dan  Ustadz Masyhur Hasan Salman.&lt;br /&gt;Selain itu masih banyak lagi buku-buku yang bermanfaat. Apa yang kami sebutkan di atas hanyalah sebagai contoh, tidak berarti kami membatasi. Di samping itu, saat ini telah pula merebak kecenderungan buku-buku kecil dan praktis yang banyak bermanfaat. Kalau kita catat di sini, tentu tak memungkinkan, karena itu masing-masing hendaknya meminta pendapat orang ahli dan teliti dalam menyeleksinya. Dan sungguh, barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Ia akan pahamkan orang tersebut dalam masalah agama.&lt;br /&gt;Nasehat 10 Perpustakaan Kaset di Rumah.&lt;br /&gt;Tape Recorder di dalam rumah bisa berfungsi baik atau jelek. Bagaimana menjadikan penggunaannya diridhai oleh Allah ?&lt;br /&gt;Diantara sarana untuk itu adalah menjadikan koleksi kaset yang ada di dalam rumah merupakan kaset-kaset Islami dan baik. Yakni rekaman dari para ulama, pembaca Al-Qur'an (qari' ), penceramah, pemberi nasehat, khatib dll.&lt;br /&gt;Sungguh, mendengarkan kaset bacaan Al-Qur'an yang khusyu' dari suara sebagian imam shalat tarawih misalnya, memiliki pengaruh besar bagi keluarga di rumah. Baik itu pengaruh dari makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an maupun pengaruh terhadap hafalan mereka, karena senantiasa memperdengarkannya kembali, juga pengaruh segi penjagaannya dari pendengaran setan seperti lagu-lagu, sebab telinga dan hati tidak cocok untuk bercampur di dalamnya kalamullah dan lagu-lagu setan.&lt;br /&gt;Betapa banyak kaset-kaset fatwa yang memberikan pengaruh dalam pemahaman fiqh anggota keluarga dalam berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari dalam kehidupan mereka. Di antara yang digagaskan dalam masalah ini yaitu mendengarkan  fatwa-fatwa rekaman dari para ulama seperti fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani,, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, Syaikh  Shalih Al-Fauzan dan lain-lain dari ulama yang terpercaya keilmuan dan agamanya.&lt;br /&gt;Umat Islam hendaknya memperhatikan dari mana ia mengambil fatwa agama, karena ini adalah urusan agama. Karena itu, lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu. Kita hendaknya mengambil agama dari orang yang telah dikenal keshalihan dan takwa serta wara'nya, bersandar kepada hadits-hadits shahih dan tidak ta'ashub madzhab, berkata  sesuai dengan dalil, konsisten dengan manhaj wasath (pertengahan), tidak terlalu ekstrim dan memberatkan, atau terlalu longgar dan mempermudah, dan dia adalah orang yang mengetahui (khabir) terhadap apa yang kita tanyakan.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;"(Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia". (Al-Furqan: 59).&lt;br /&gt;Mendengarkan penceramah yang berdakwah menyadarkan umat, menegakkan dalil dan kebenaran serta menolak kemungkaran adalah sesuatu yang amat penting dalam pembangunan pribadi di dalam rumah tangga muslim.&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kaset-kaset para ulama itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi yang penting, setiap muslim harus mengetahui ciri-ciri manhaj (metode) yang benar  bagi seorang penceramah sehingga kaset-kasetnya perlu didengarkan dan yang mendengarkan aman karenanya.&lt;br /&gt;Di antara ciri-ciri itu adalah:&lt;br /&gt;1. Penceramah itu harus berada diatas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, setia kepada sunnah dan meninggalkan bid'ah.&lt;br /&gt;2. Hendaknya ia bersandarkan pada hadits-hadits shahih dan menghindari hadits-hadits dha'if dan palsu.&lt;br /&gt;3. Hendaknya ia jeli dan peka dengan kondisi sosial masyarakat serta apa yang mereka alami. Ia harus bisa meletakkan obat tepat pada penyakit. Menyampaikan kepada manusia apa yang bermanfaat dan sangat mereka butuhkan.&lt;br /&gt;4. Hendaknya ia berani menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuannya dan tidak berbicara dengan batil.&lt;br /&gt;Kaset-kaset itu perlu diletakkan di laci dengan tertib sehingga gampang diambil, juga akan menjaga kaset tersebut dari hilang, rusak, atau dibuat mainan anak-anak. Kaset-kaset yang baik hendaknya kita usahakan untuk disebarkan melalui peminjaman atau menghadiahkannya untuk orang lain.&lt;br /&gt;Dalam pemanfaatan tape recorder ini, adalah baik dengan meletakkan alat tersebut di dapur sehingga akan memberi manfaat kepada ibu rumah tangga, juga di kamar  tidur untuk bisa memanfaatkan waktu hingga saat terakhir menjelang kita tidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-332011599056168956?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/332011599056168956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/10-langkah-perbaikan-rumah-tangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/332011599056168956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/332011599056168956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/10-langkah-perbaikan-rumah-tangga.html' title='10 Langkah Perbaikan Rumah Tangga'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-5849919731384218832</id><published>2012-02-03T09:00:00.000-08:00</published><updated>2012-02-16T08:34:30.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Nikmat</title><content type='html'>NIKMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mengatakan nikmat pada sesuatu yang sangat berkesan pada perasaan kita.  Sebelum menerangkan lebih lanjut, kita harus tahu dulu apa arti dari nikmat. Nikmat yaitu sesuatu yang mempunyai nilai lebih dan dinamis (dapat dipertahankan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat terbagi 2 :&lt;br /&gt;1. Nikmat besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat besar yaitu :&lt;br /&gt;a. Nikmat Iman&lt;br /&gt;b. Nikmat Islam&lt;br /&gt;c. Nikmat eksistensi diri&lt;br /&gt;d. Nikmat kemerdekaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nikmat Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat kecil berupa :&lt;br /&gt;a. Nikmat hidup&lt;br /&gt;b. Nikmat kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kita dalam menghadapi/mendapatkan nikmat yaitu syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti dari syukur yaitu mendayagunakan sesuatu sesuai dengan kehendak pemberinya.&lt;br /&gt;Sehingga bila kita mendapatkan :&lt;br /&gt;1.  Nikmat besar :&lt;br /&gt;a. Nikmat Iman, maka harus mendayagunakan Iman sesuai dengan kehendak pemberinya (Alloh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nikmat Islam maka harus mendayagunakan keislaman kita sesuai dengan kehendak Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Nikmat Eksistensi diri dapat kita lihat dalam Al-Qur’an surat (76) ayat 1 berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut dengan waktu terbagi 3 :&lt;br /&gt;a. disebut ada&lt;br /&gt;b. dianggap ada&lt;br /&gt;c. kenyataannya ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang kriteria masa adalah ada 3 :&lt;br /&gt;a. Masa sudah ada&lt;br /&gt;Masa sudah ada yaitu ketika kita masih di alam Ruh dan jasad kita masih berupa tanah&lt;br /&gt;b. Masa sedang ada&lt;br /&gt;Masa sedang ada yaitu masa saat hidup didunia saat ini yaitu berupa ruh dan jasad.&lt;br /&gt;c. Masa akan ada&lt;br /&gt;Masa akan datang yaitu masa setelah kita mati yaitu hanya berupa ruh sedang jasadnya kembali menjadi tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga eksistensi diri kita yang paling utama adalah ruh kita, karena pada setiap masa selalu ada dan yang paling diberi tanggungjawab penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang dimaksud dengan nikmat eksistensi diri yaitu mendayagunakan ruh kita sesuai dengan kehendak Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Nikmat kemerdekaan&lt;br /&gt;Pada dasarnya manusia ketika lahir dalam keadaan merdeka (bersih).  Adapun ketika beranjak dewasa manusia dihadapkan pada kenyataan adanya alam.  Sehingga timbullah dua cara memandang :&lt;br /&gt;  a. manusia memandang alam&lt;br /&gt;     artinya manusia melihat alam sebagai sesuatu yang dapat didayagunakan sesuai&lt;br /&gt;     dengan kehendak pemberinya.&lt;br /&gt;  b. alam memandang manusia&lt;br /&gt;     artinya manusia didayagunakan/ditentukan oleh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat kecil berupa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Nikmat hidup yaitu mendayagunakan hidup sesuai dengan kehendak Alloh.&lt;br /&gt;b. Nikmat kehidupan yaitu mendayagunakan kehidupan sesuai dengan kehendak Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kita pada saat ini sering membesarkan nikmat kecil dan mengecilkan nikmat besar. Seperti halnya kita hanya berusaha untuk memelihara dan mendayagunakan jasad kita untuk hidup dan kehidupan sedangkan ruh kita, tidak didayagunakan ruh sesuai kehendaknya yaitu dengan tidak memelihara ruh kita untuk tetap mengagungkan Alloh diatas segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengingkari akan nikmat itu semua maka kita akan disebut kufur nikmat. Kufur nikmat akan diberi ganjaran neraka jahanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti dari sabar yaitu : tidak pernah takut, lemah, lesu, dan lelah dalam menjalankan perintah dan larangan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita manusia haruslah mempunyai Atsari sujud.  Atsari sujud yaitu diibaratkan sebuah tanaman yang bertunas, kemudian membesar, kemudian menjadi pohon, mempunyai ranting, mempunyai daun dan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pohon ada 2 :&lt;br /&gt;1. Pohon yang baik :&lt;br /&gt;yaitu yang akarnya menancap kuat ke dalam bumi dan tunasnya menjulang tinggi kelangit.&lt;br /&gt;Artinya bahwa dalam kehidupan kita harus memiliki keimanan yang kuat (akar) yang akan menghasilkan keislaman yang sehat dan hasilnya adalah keturunan yang tetap mengagungkan, mencintai, patuh, dan sujud kepada Alloh.&lt;br /&gt;2. Pohon yang buruk.&lt;br /&gt;Pohon yang perakarannya yang buruk sehingga harus ditopang oleh kayu penopang.  Jadi hanya tergantung pada kekuatan si penopang.&lt;br /&gt;Artinya : jika kita hanya bergantung pada manusia lain tanpa tahu bahwa hanya Alloh lah yang mengatur kita, maka tunggulah kehancuran dan balasan dari Alloh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-5849919731384218832?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/5849919731384218832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/nikmat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5849919731384218832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5849919731384218832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2012/02/nikmat.html' title='Nikmat'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-5943010076577928840</id><published>2010-06-30T08:07:00.000-07:00</published><updated>2010-06-30T08:32:40.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Berkaca pada Alam</title><content type='html'>Ada suatu cerita dimana seorang manusia yang telah terjun didunia ini dengan mengikuti apa yang menjadi aturan dunia saat ini.  Kemudian dia merenung dan merenung ketika melihat alam yang begitu tertib dan tunduk pada suatu perintah yang pasti.&lt;br /&gt;Matahari dia lihat akan dan terus terbit dari timur dan terbenam di barat.&lt;br /&gt;Burung yang tetap mengepakkan sayapnya di langit dan tidak berusaha untuk terbang di air&lt;br /&gt;ikan yang tetap berenang di air dan tidak sekalipun merasa untuk berjalan di darat&lt;br /&gt;Bulan dengan anggunnya dilangit tetap menunjukkan siklusnya yang tetap tidak berusaha untuk mengingkari fitrahnya.&lt;br /&gt;Pohon tetap berdiri tegak ditempatnya dan tak ada keinginan untuk dia sendiri berpindak walaupun hanya satu mili tanpa bantuan manusia.&lt;br /&gt;Tetapi mengapa manusia yang nota bene juga hasil ciptaan Sang Penguasa Alam, Alloh SWT, begitu angkuh untuk merubah konsep yang telah diturunkan-Nya berupa aturan yang pasti, Al-Qur'an, dan sebenarnya untuk kebaikan diri manusia itu sendiri, berusaha untuk merubah konsep tersebut dan bahkan membuat konsep tersendiri dengan dalih untuk kebaikan umat manusia.&lt;br /&gt;Mengapa hal sekecil itu menjadi hal yang menyusahkan manusia? &lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Ketika diperintahkan untuk menjaga kemaluannya dengan jalan menikah, banyak yang merasa itu mengungkung kebebasan untuk memilih.&lt;br /&gt;Ketika diperintah untuk tidak mencuri dengan dalih untuk hidup dan kebaikan diri mereka menghalalkannya&lt;br /&gt;Ketika diperintah untuk tidak merusak alam mereka bahkan berusaha untuk mengeksploitasi alam dengan dalih kebutuhan hidup semakin sulit.&lt;br /&gt;dan dalih-dalih yang lain yang seyogyanya ditelaah dan dicermati untung ruginya untuk kehidupan mereka kedepan.&lt;br /&gt;Aaahhh.... manusia memang kebanyakan merupakan makhluk yang menjadi bahan bakar neraka. (Surat Al-A'raaf:179)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-5943010076577928840?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/5943010076577928840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2010/06/berkaca-pada-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5943010076577928840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/5943010076577928840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2010/06/berkaca-pada-alam.html' title='Berkaca pada Alam'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-507900393783366.post-6059795609829600363</id><published>2010-03-02T20:27:00.001-08:00</published><updated>2012-02-17T00:56:13.374-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tabligh'/><title type='text'>Ma'rifatul Ilmi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ma’rifatul Ilmi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;font-size:130%;" &gt;(Mengenal Ilmu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita membahas tentang ilmu.   Ilmu yang ada pada saat ini sudah dibeda-bedakan.  Ada ilmu untuk dunia dan ilmu untuk akhirat.   Padahal tahukah anda, bahwa semua ilmu itu berasal dari Alloh?   Mengapa harus dibeda-bedakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu dapat didefinisikan dalam beberapa cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Ilmu Menurut Bahasa (Bahasa Arab)/ Lugoh :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;alima-ya'lamu-Ilman&lt;br /&gt;Mengetahui - pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ilmu menurut bahasa Arab adalah hasil dari mengetahui yang akan menjadi  pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2. Ilmu Menurut Istilah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali pernah berkata, bahwa ilmu itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idzroku kulla syaiim ma yujhalu hatta ta'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menemukan tiap-tiap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui sampai mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Qur’an, ilmu itu tidak akan mungkin datang sendiri.  Hal ini dapat dilihat pada surat An-Nahl (16) ayat 78&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi manusia pada hakikatnya menurut keilmuan didunia ini akan ada dua macam yaitu :&lt;br /&gt;a. manusia yang mengetahui&lt;br /&gt;b. manusia yang tidak mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa mengetahui,  Alloh memberikan potensi diri yaitu :&lt;br /&gt;a. pendengaran&lt;br /&gt;b. penglihatan&lt;br /&gt;c. hati&lt;br /&gt;Semua itu harus didayagunakan untuk mendapatkan ilmu tentang Alloh.  Mengapa harus didayagunakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didayagunakan disini berarti manusia dituntut untuk berfikir, apakah ilmu yang mereka dapatkan memang benar menurut Alloh atau menurut hawa nafsu mereka, atau bahkan tidak mau (susah-susah) berfikir.  Istilahnya “bagaimana pak ustad  (guru) saja, saya mah nurut aja.” Dan kebanyakan manusia mempunyai pendapat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk orang yang tidak mau mendayagunakan potensi tersebut (berfikir), Alloh telah menerangkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf (7) ayat 179 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia.  Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Alloh), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh) dan meraka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Alloh).  Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh bahkan menambahkan disurat lain yaitu surat Al-Anfal (8) ayat 22 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Alloh ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekak disini bukan berarti orang-orang yang tuli adalah manusia yang bagaikan binatang yang paling buruk, tetapi manusia yang tidak mau mendengar, melihat dan memahami tanda-tanda kekuasaan Alloh adalah manusia yang paling rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada pula kadangkala manusia yang merasa bahwa mereka telah mengetahui dengan benar tentang ilmu Alloh, karena telah dijejali perintah-perintah dan larangan-larangan dari guru/ustadnya, sehingga Alloh perlu untuk menerangkan di surat Al-Isro (17) ayat 36 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi manusia yang hanya manut dan patuh terhadap perkataan guru atau ustadz yang menyampaikan tanpa dikaji dan difikirkan dengan potensi yang dimilikinya maka tunggulah pembalasan Alloh yang akan menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dikatakan oleh Alloh bagi manusia yang telah merasa cukup mendapatkan ilmu yang diajarkan orangtuanya atau para ulama-ulama terdahulu atau nenek moyang mereka, Alloh mengisyaratkan dalam surat Al-Maidah (5) ayat 104 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Alloh dan mengikuti Rosul”.  Mereka menjawab :”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari Bapak-bapak kami mengajarkannya.”  Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ilmu yang harus diketahui dan dicari sebagai petunjuk paling benar, Rosululloh Muhammad SAW telah kata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al ilmu huwa qitabullahi wa sunnatur rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu itu adalah dari Kitab Alloh dan sunnah rosul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 2 diterangkan mengenai kitab yang dijadikan sebagai petunjuk ilmu bagi mereka yang bertaqwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 185 diterangkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelas dan pembeda ilmu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;petunjuk&lt;/span&gt; bagi manusia dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk&lt;/span&gt; itu dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pembeda&lt;/span&gt; (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika dikaji lagi, bahwa Al-Qur’an itu harus dijadikan konstitusi atau Undang-Undang Dasar manusia dalam kehidupannya (petunjuk).  Dan Al-Qur’an juga harus menjadi penjelasan petunjuk (GBHN) bagi manusia, bukan menggunakan Undang-undang Dasar dan GBHN yang dibuat oleh manusia (nafsunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini banyak sekali manusia yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan saja (Qiro'ah) tanpa dimengerti apa makna yang terkandung didalamnya.  Bahkan dijadikan perlombaan membaca Al-Qur’an yang paling bagus (MTQ).  Padahal Alloh telah melarang hal tersebut dalam surat  Yasin (36) ayat 69 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat diatas jelas bahwa manusia yang hanya membaca Al-Qur’an tanpa tahu maksud dan tujuannya sehingga tidak dijalankan sesuai dengan bunyi ayat yang dibacanya adalah manusia yang bodoh.  Apalagi yang membaca dan membuat syair yang hanya ditujukan kepada manusia (lagu-lagu) tanpa sedikitpun ada rasa mengingat Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Ilmu Menurut Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ilmu menurut sunnah adalah :&lt;br /&gt;Karakter, perilaku, perjalanan hidup, metode.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ilmu itu adalah “Perjalanan rosul dalam rangka menegakkan Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita kaji mengenai apakah benar ilmu itu berasal dari Alloh. Dalam Al-Qur’an, Alloh telah menerangkan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran–ukuran yang sangat rapi. Hal ini dapat dibaca pada surat Al-Furqon (25) ayat 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bisa kita lihat bahwa banyak ilmu-ilmu yang ada didunia ini ternyata berasal dari Al-Qur’an (matematika, fisika, biologi, bahasa, kimia, militer, sosial kemasyarakatan, ekonomi, dll.), hanya tinggal manusianya-lah yang harus berfikir (mencari) kebenaran firman Alloh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Alloh tersebut bukan hanya cerita belaka, karena Alloh itu maha pandai.  Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Mulk (67) Ayat 14 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang manusia itu mau berfikir, Alloh telah terangkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Alaq (96) ayat 3 – 7 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,”&lt;br /&gt;“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.”&lt;br /&gt;“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”&lt;br /&gt;“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,”&lt;br /&gt;“karena dia melihat dirinya serba cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an ini tidak begitu saja diberikan oleh Alloh, tetapi Dia juga mengajarkannya kepada manusia melalui perantara kalam (tulisan).  Pernyataan ini bisa kita lihat juga pada surat Ar-Rahman (55) ayat 1-3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Tuhan) Yang Maha Pemurah,”&lt;br /&gt;“Yang telah mengajarkan Al Qur'an.”&lt;br /&gt;“Dia menciptakan manusia,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengajaran Alloh kepada manusia secara langsung adalah dengan mengajarkan kepada Adam sebagai manusia yang pertama kali diciptakan.  Bisa kita lihat pada surat Al-Baqarah (2) ayat 31 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama (benda-benda) itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan nama-nama pada ayat di atas bukan nama-nama benda tetapi nama-nama Alloh (asmaul husna).  Berarti Adam diajarkan oleh Alloh bukan untuk mengetahui nama-nama benda tetapi mengetahui nama-nama Alloh yang harus difahami dan diamalkan oleh manusia dan juga dijadikan sandaran hidup didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, ilmu itu agar bisa sampai kepada manusia, harus ada yang menyampaikan.  Ibarat sebuah bis ilmu itu harus ada sopir, kondektur, dan kendaraannya.  Jadi ilmu itu bisa difahami dan terus diamalkan bila ada yang mengajak (kondektur), ada alat penyampai (bis), dan ada yang menyampaikan (sopir). Sehingga bila kita mencari ilmu tanpa ada yang mengajak, tanpa media, dan tanpa ada yang mengajarkan kita akan tersasar bahkan mungkin tidak akan sampai kepada tujuan ilmu yaitu Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penyampaian (pendidikan) ilmu Al-Qur’an pada manusia ada beberapa cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an melalui Wahyu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penyampaian ilmu secara formal yang dimiliki oleh manusia yang terpilih oleh Alloh didapat melalui wahyu, dan Alloh telah menerangkan pada surat As-Suura (42) ayat 51-53 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”&lt;br /&gt;“(Yaitu) jalan Alloh yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Alloh-lah kembali semua urusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dari ayat di atas, jelas bahwa benar Alloh telah siapkan semuanya itu bagi manusia yang mau mencari (berfikir) bahwa kitab (Al-Qur’an) ini disampaikan melalui manusia yang dipilih Alloh berupa wahyu, karena telah jelas pula bahwa pada surat Al-Baqarah (2) ayat 185, Al-Qur’an itu akan menjadi petunjuk, penjelasan petunjuk, dan pembeda antara yang hak dan yang bathil bagi manusia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;petunjuk&lt;/span&gt; bagi manusia dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk&lt;/span&gt; itu dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pembeda&lt;/span&gt; (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an (ilmu) ini mengapa harus ada penyampai (sopir), yang mengajak (kondektur), dan alat penyampai (bis)?  Sebab diantara manusia ada yang buta huruf, sehingga bila mereka dipaksa untuk membaca atau mendengar dan berfikir, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang terkandung didalamnya. Sesuai dengan surat Al-Baqarah (2)  ayat 78 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab,  kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika manusia mau diajak, mau berfikir dan menerima apa yang disampaikan oleh yang menyampaikan, maka Al-Qur’an ini akan menjadi petunjuk dan pelajaran bagi mereka, dapat kita lihat pada surat Ali Imran (3) ayat 138 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan diatas, bisa kita simpulkan bahwa, jika kita mau berfikir dan menerima apa yang telah disampaikan oleh Alloh melalui penyampainya, maka Al-Qur’an itu akan menjadi:&lt;br /&gt;- Petunjuk hidup manusia&lt;br /&gt;- Penjelas bagaimana cara hidup manusia didunia&lt;br /&gt;- Pembeda antara yang hak dan yang bathil&lt;br /&gt;- Pelajaran bagi manusia yang bertaqwa diseluruh dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Al-Qur’an dapat diterima oleh manusia, maka memerlukan orang yang menyampaikannya yang disebut Rosul.  Rosul dalam bahasa Arab artinya penyampai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika ada yang tetap mengatakan bahwa Kitab Al-Qur’an ini adalah bohong dan Rosul itu hanya berucap kosong, mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka sesuai dengan surat Al-Qashash (28) ayat 50 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi dari hawa nafsu adalah :&lt;br /&gt;a. emosionil&lt;br /&gt;b. pemikiran&lt;br /&gt;c. perasaan&lt;br /&gt;semua itu  disebut juga sebagai filsafat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa disimak pula perkataan mereka dalam surat Az-Zukhruf (43) ayat 23 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat diatas bisa kita fahami bahwa manusia sekarang yang mengatakan bahwa saya Islam karena keturunan adalah salah.   Karena Islam itu tidak diturunkan kepada anak cucunya tetapi Islam itu harus dicari dan difahami sendiri melalui perantara Rosul dan bisa dilaksanakan jika kita sudah siap dan patuh untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat An-Najm (53) ayat 3 – 4, Rosul disebut juga ayat-ayat Kauliyyah (ayat-ayat yang diucapkan) prosesnya yaitu dengan Tadzakur/ berdzikir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya.”&lt;br /&gt;“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga bisa kita simak dalam surat Ali Imran (3) ayat 164&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul disini mempunyai fungsi dan peranan sendiri.&lt;br /&gt;Fungsi rosul :&lt;br /&gt;1. membacakan&lt;br /&gt;2. mensucikan&lt;br /&gt;3. mendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu itu adalah pedoman hidup manusia yang memiliki kebenaran yang mutlak hal ini dapat dilihat pada surat Al-Qashash (28) ayat 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pada surat Al-An’am (6) ayat 104&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pada surat Al-A’raf (7) ayat 203&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur'an kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur'an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wahyu itu datang dari Alloh melalui perantaranya (rosul) dan manfaat serta mudharatnya untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Non Formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Qur’an melalui ilham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ilham adalah metode yang tidak langsung diberikan kepada manusia bukan berupa Kitab, tetapi melalui tanda-tanda alam.&lt;br /&gt;Sesuai dengan surat Al-Balad (90) ayat 10, bahwa ada dua cara dalam pemahaman ilmu Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diteruskan pada surat Asy-Syams (91) ayat 8 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia yang mau berfikir bahwa memang benar jalan itu ada dua, Alloh telah menegaskan dalam surat As-Sajdah (32) ayat 9 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham disebut juga ayat Kauniyyah (ciri-ciri alam yang harus ditafakuri), bisa dilihat pada surat Ali Imran (3) ayat 190-191&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”&lt;br /&gt;“(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa kita lihat juga pada surat Al-Fushilat (41) ayat 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham bisa juga kita sebut sarana hidup dan merupakan kebenaran eksperimental . Bisa dilihat pada surat Huud (11) ayat 61:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas dari ayat di atas tanda-tanda alam itu (ilham) hanya bisa dijadikan sarana hidup manusia yang harus ditafakuri dan dimanfaatkan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi banyak manusia yang menjadikan ilham ini sebagai suatu kebenaran yang mutlak, padahal jelas itu hanya persangkaan mereka saja, Alloh telah menjawab pernyataan mereka pada surat Yunus (10) ayat 36:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dunia dan alam yang kita tempati ini hanyalah sarana kita dalam memahami maksud dan tujuan kita hidup, bukan sarana mencari kesenangan diri tanpa tahu siapa yang mengatur kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/507900393783366-6059795609829600363?l=tukang-pos.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tukang-pos.blogspot.com/feeds/6059795609829600363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2010/03/marifatul-ilmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/6059795609829600363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/507900393783366/posts/default/6059795609829600363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tukang-pos.blogspot.com/2010/03/marifatul-ilmi.html' title='Ma&apos;rifatul Ilmi'/><author><name>Tukang Pos</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03223235386722678221</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
