Selasa, 02 Maret 2010

Ma'rifatul Ilmi

Ma’rifatul Ilmi
(Mengenal Ilmu)



Sering kita membahas tentang ilmu. Ilmu yang ada pada saat ini sudah dibeda-bedakan. Ada ilmu untuk dunia dan ilmu untuk akhirat. Padahal tahukah anda, bahwa semua ilmu itu berasal dari Alloh? Mengapa harus dibeda-bedakan?


Ilmu dapat didefinisikan dalam beberapa cara :

1. Ilmu Menurut Bahasa (Bahasa Arab)/ Lugoh :
alima-ya'lamu-Ilman
Mengetahui - pengetahuan

Jadi ilmu menurut bahasa Arab adalah hasil dari mengetahui yang akan menjadi pengetahuan.


2. Ilmu Menurut Istilah :


Al-Ghazali pernah berkata, bahwa ilmu itu adalah :

Idzroku kulla syaiim ma yujhalu hatta ta'lam

“Menemukan tiap-tiap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui sampai mengetahui.”


Menurut Al-Qur’an, ilmu itu tidak akan mungkin datang sendiri. Hal ini dapat dilihat pada surat An-Nahl (16) ayat 78

“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”


Jadi manusia pada hakikatnya menurut keilmuan didunia ini akan ada dua macam yaitu :
a. manusia yang mengetahui
b. manusia yang tidak mengetahui


Untuk bisa mengetahui, Alloh memberikan potensi diri yaitu :
a. pendengaran
b. penglihatan
c. hati
Semua itu harus didayagunakan untuk mendapatkan ilmu tentang Alloh. Mengapa harus didayagunakan?

Didayagunakan disini berarti manusia dituntut untuk berfikir, apakah ilmu yang mereka dapatkan memang benar menurut Alloh atau menurut hawa nafsu mereka, atau bahkan tidak mau (susah-susah) berfikir. Istilahnya “bagaimana pak ustad (guru) saja, saya mah nurut aja.” Dan kebanyakan manusia mempunyai pendapat seperti itu.

Adapun untuk orang yang tidak mau mendayagunakan potensi tersebut (berfikir), Alloh telah menerangkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf (7) ayat 179 :

“Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Alloh), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh) dan meraka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Alloh bahkan menambahkan disurat lain yaitu surat Al-Anfal (8) ayat 22 :

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Alloh ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun.”

Pekak disini bukan berarti orang-orang yang tuli adalah manusia yang bagaikan binatang yang paling buruk, tetapi manusia yang tidak mau mendengar, melihat dan memahami tanda-tanda kekuasaan Alloh adalah manusia yang paling rugi.

Tetapi ada pula kadangkala manusia yang merasa bahwa mereka telah mengetahui dengan benar tentang ilmu Alloh, karena telah dijejali perintah-perintah dan larangan-larangan dari guru/ustadnya, sehingga Alloh perlu untuk menerangkan di surat Al-Isro (17) ayat 36 :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Jadi manusia yang hanya manut dan patuh terhadap perkataan guru atau ustadz yang menyampaikan tanpa dikaji dan difikirkan dengan potensi yang dimilikinya maka tunggulah pembalasan Alloh yang akan menimpanya.

Juga dikatakan oleh Alloh bagi manusia yang telah merasa cukup mendapatkan ilmu yang diajarkan orangtuanya atau para ulama-ulama terdahulu atau nenek moyang mereka, Alloh mengisyaratkan dalam surat Al-Maidah (5) ayat 104 :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Alloh dan mengikuti Rosul”. Mereka menjawab :”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari Bapak-bapak kami mengajarkannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

Mengenai ilmu yang harus diketahui dan dicari sebagai petunjuk paling benar, Rosululloh Muhammad SAW telah kata :

Al ilmu huwa qitabullahi wa sunnatur rasul

“Ilmu itu adalah dari Kitab Alloh dan sunnah rosul.”

Dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 2 diterangkan mengenai kitab yang dijadikan sebagai petunjuk ilmu bagi mereka yang bertaqwa:

“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

Sedangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 185 diterangkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelas dan pembeda ilmu :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Jadi jika dikaji lagi, bahwa Al-Qur’an itu harus dijadikan konstitusi atau Undang-Undang Dasar manusia dalam kehidupannya (petunjuk). Dan Al-Qur’an juga harus menjadi penjelasan petunjuk (GBHN) bagi manusia, bukan menggunakan Undang-undang Dasar dan GBHN yang dibuat oleh manusia (nafsunya).

Pada saat ini banyak sekali manusia yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan saja (Qiro'ah) tanpa dimengerti apa makna yang terkandung didalamnya. Bahkan dijadikan perlombaan membaca Al-Qur’an yang paling bagus (MTQ). Padahal Alloh telah melarang hal tersebut dalam surat Yasin (36) ayat 69 :

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,”

Dari ayat diatas jelas bahwa manusia yang hanya membaca Al-Qur’an tanpa tahu maksud dan tujuannya sehingga tidak dijalankan sesuai dengan bunyi ayat yang dibacanya adalah manusia yang bodoh. Apalagi yang membaca dan membuat syair yang hanya ditujukan kepada manusia (lagu-lagu) tanpa sedikitpun ada rasa mengingat Alloh.



3. Ilmu Menurut Sunnah

Ilmu menurut sunnah adalah :
Karakter, perilaku, perjalanan hidup, metode.”

Jadi ilmu itu adalah “Perjalanan rosul dalam rangka menegakkan Islam.”


Bila kita kaji mengenai apakah benar ilmu itu berasal dari Alloh. Dalam Al-Qur’an, Alloh telah menerangkan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran–ukuran yang sangat rapi. Hal ini dapat dibaca pada surat Al-Furqon (25) ayat 2 :

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”

Sekarang bisa kita lihat bahwa banyak ilmu-ilmu yang ada didunia ini ternyata berasal dari Al-Qur’an (matematika, fisika, biologi, bahasa, kimia, militer, sosial kemasyarakatan, ekonomi, dll.), hanya tinggal manusianya-lah yang harus berfikir (mencari) kebenaran firman Alloh ini.

Pernyataan Alloh tersebut bukan hanya cerita belaka, karena Alloh itu maha pandai. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Mulk (67) Ayat 14 :

“Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”

Jika memang manusia itu mau berfikir, Alloh telah terangkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Alaq (96) ayat 3 – 7 :

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,”
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.”
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,”
“karena dia melihat dirinya serba cukup.”

Al-Qur’an ini tidak begitu saja diberikan oleh Alloh, tetapi Dia juga mengajarkannya kepada manusia melalui perantara kalam (tulisan). Pernyataan ini bisa kita lihat juga pada surat Ar-Rahman (55) ayat 1-3 :

“(Tuhan) Yang Maha Pemurah,”
“Yang telah mengajarkan Al Qur'an.”
“Dia menciptakan manusia,”

Contoh pengajaran Alloh kepada manusia secara langsung adalah dengan mengajarkan kepada Adam sebagai manusia yang pertama kali diciptakan. Bisa kita lihat pada surat Al-Baqarah (2) ayat 31 :

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama (benda-benda) itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

Pernyataan nama-nama pada ayat di atas bukan nama-nama benda tetapi nama-nama Alloh (asmaul husna). Berarti Adam diajarkan oleh Alloh bukan untuk mengetahui nama-nama benda tetapi mengetahui nama-nama Alloh yang harus difahami dan diamalkan oleh manusia dan juga dijadikan sandaran hidup didunia.

Pada dasarnya, ilmu itu agar bisa sampai kepada manusia, harus ada yang menyampaikan. Ibarat sebuah bis ilmu itu harus ada sopir, kondektur, dan kendaraannya. Jadi ilmu itu bisa difahami dan terus diamalkan bila ada yang mengajak (kondektur), ada alat penyampai (bis), dan ada yang menyampaikan (sopir). Sehingga bila kita mencari ilmu tanpa ada yang mengajak, tanpa media, dan tanpa ada yang mengajarkan kita akan tersasar bahkan mungkin tidak akan sampai kepada tujuan ilmu yaitu Alloh.


Metode penyampaian (pendidikan) ilmu Al-Qur’an pada manusia ada beberapa cara :

a. Formal

Al-Qur’an melalui Wahyu

Metode penyampaian ilmu secara formal yang dimiliki oleh manusia yang terpilih oleh Alloh didapat melalui wahyu, dan Alloh telah menerangkan pada surat As-Suura (42) ayat 51-53 :

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
“(Yaitu) jalan Alloh yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Alloh-lah kembali semua urusan.”

Jadi dari ayat di atas, jelas bahwa benar Alloh telah siapkan semuanya itu bagi manusia yang mau mencari (berfikir) bahwa kitab (Al-Qur’an) ini disampaikan melalui manusia yang dipilih Alloh berupa wahyu, karena telah jelas pula bahwa pada surat Al-Baqarah (2) ayat 185, Al-Qur’an itu akan menjadi petunjuk, penjelasan petunjuk, dan pembeda antara yang hak dan yang bathil bagi manusia :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Al-Qur’an (ilmu) ini mengapa harus ada penyampai (sopir), yang mengajak (kondektur), dan alat penyampai (bis)? Sebab diantara manusia ada yang buta huruf, sehingga bila mereka dipaksa untuk membaca atau mendengar dan berfikir, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang terkandung didalamnya. Sesuai dengan surat Al-Baqarah (2) ayat 78 :

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.”

Tetapi jika manusia mau diajak, mau berfikir dan menerima apa yang disampaikan oleh yang menyampaikan, maka Al-Qur’an ini akan menjadi petunjuk dan pelajaran bagi mereka, dapat kita lihat pada surat Ali Imran (3) ayat 138 :

“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dari penjelasan diatas, bisa kita simpulkan bahwa, jika kita mau berfikir dan menerima apa yang telah disampaikan oleh Alloh melalui penyampainya, maka Al-Qur’an itu akan menjadi:
- Petunjuk hidup manusia
- Penjelas bagaimana cara hidup manusia didunia
- Pembeda antara yang hak dan yang bathil
- Pelajaran bagi manusia yang bertaqwa diseluruh dunia ini.

Agar Al-Qur’an dapat diterima oleh manusia, maka memerlukan orang yang menyampaikannya yang disebut Rosul. Rosul dalam bahasa Arab artinya penyampai berita.

Tetapi jika ada yang tetap mengatakan bahwa Kitab Al-Qur’an ini adalah bohong dan Rosul itu hanya berucap kosong, mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka sesuai dengan surat Al-Qashash (28) ayat 50 :

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Isi dari hawa nafsu adalah :
a. emosionil
b. pemikiran
c. perasaan
semua itu disebut juga sebagai filsafat

Atau bisa disimak pula perkataan mereka dalam surat Az-Zukhruf (43) ayat 23 :

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka."

Dari ayat diatas bisa kita fahami bahwa manusia sekarang yang mengatakan bahwa saya Islam karena keturunan adalah salah. Karena Islam itu tidak diturunkan kepada anak cucunya tetapi Islam itu harus dicari dan difahami sendiri melalui perantara Rosul dan bisa dilaksanakan jika kita sudah siap dan patuh untuk melakukannya.

Dalam surat An-Najm (53) ayat 3 – 4, Rosul disebut juga ayat-ayat Kauliyyah (ayat-ayat yang diucapkan) prosesnya yaitu dengan Tadzakur/ berdzikir :

“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya.”
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”

Dan juga bisa kita simak dalam surat Ali Imran (3) ayat 164

“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Rosul disini mempunyai fungsi dan peranan sendiri.
Fungsi rosul :
1. membacakan
2. mensucikan
3. mendidik

Wahyu itu adalah pedoman hidup manusia yang memiliki kebenaran yang mutlak hal ini dapat dilihat pada surat Al-Qashash (28) ayat 43

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.”

Atau pada surat Al-An’am (6) ayat 104

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).”

Juga pada surat Al-A’raf (7) ayat 203

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur'an kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Qur'an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Jadi wahyu itu datang dari Alloh melalui perantaranya (rosul) dan manfaat serta mudharatnya untuk diri sendiri.


b. Non Formal

Al-Qur’an melalui ilham

Metode ilham adalah metode yang tidak langsung diberikan kepada manusia bukan berupa Kitab, tetapi melalui tanda-tanda alam.
Sesuai dengan surat Al-Balad (90) ayat 10, bahwa ada dua cara dalam pemahaman ilmu Alloh :

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Diteruskan pada surat Asy-Syams (91) ayat 8 :

“maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”

Bagi manusia yang mau berfikir bahwa memang benar jalan itu ada dua, Alloh telah menegaskan dalam surat As-Sajdah (32) ayat 9 :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Ilham disebut juga ayat Kauniyyah (ciri-ciri alam yang harus ditafakuri), bisa dilihat pada surat Ali Imran (3) ayat 190-191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Bisa kita lihat juga pada surat Al-Fushilat (41) ayat 53

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”

Ilham bisa juga kita sebut sarana hidup dan merupakan kebenaran eksperimental . Bisa dilihat pada surat Huud (11) ayat 61:

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)."

Jelas dari ayat di atas tanda-tanda alam itu (ilham) hanya bisa dijadikan sarana hidup manusia yang harus ditafakuri dan dimanfaatkan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Tetapi banyak manusia yang menjadikan ilham ini sebagai suatu kebenaran yang mutlak, padahal jelas itu hanya persangkaan mereka saja, Alloh telah menjawab pernyataan mereka pada surat Yunus (10) ayat 36:

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Jadi dunia dan alam yang kita tempati ini hanyalah sarana kita dalam memahami maksud dan tujuan kita hidup, bukan sarana mencari kesenangan diri tanpa tahu siapa yang mengatur kita.